ﻪﺘ ﺎﮐﺮﺒﻮ ﷲ ﺔﻤﺤﺮﻮ ﻢﻜﻴﻟﻋ ﻢﻼﺴﻟﺍ

Selamat Datang di http://nasutions.blogspot.com/
Blog ini hanyalah bersifat pribadi dan dibuat juga sekedar iseng sambil belajar, jadi sangatlah wajar jika isinya hanya sebatas ilmu penulis yang sangat sedikit. Semua ini hanya mengisi waktu luang disamping kesibukan bekerja dan dorongan kewajiban untuk berda'wah meski hanya satu ayat, mudah-mudahan bermanfaat bagi pembaca dan penulisnya, Amin ya Arhamarrohimin.
"Saran serta kritik membangun sangat kami harapkan dari pengunjung".
Hak Cipta Sepenuhnya milik Allah SWT, Wassalam.

Senin, September 10, 2007

LAILATUL QODR

ﺭﺩﻗﻠﺍﺔﻠﻴﻠ
Sewaktu masih anak-anak dahulu, tatkala masih bersekolah di Madrasyah setiap bulan Ramadhan khususnya pada malam-malam sepuluh yang terakhir dan teristimewa pada malam 27, baik oleh guru agama ataupun kata-kata orang tua kami, pada salah satu malam itu ada yang disebut sebagai malam Lailatul Qodar dan sesuai dengan perkataan dari orang-orang tua ataupun guru agama tersebut, jika kita bisa bertemu dengan yang namanya malam Lailaitul Qodar tadi, maka kita akan menjumpai kayu-kayu, gunung-gunung dan segala penghuni alam semesta ini akan sujud dan pintu langit akan terbuka dan juga pada waktu itu segala permintaan akan dikabulkan. Teman saya si Qodir bertanya kepada guru kami : “Apakah kita bisa meminta sepeda?” dengan spontan guru agama kami menjawab “Bisa”, “Hanya saja jarang sekali orang mendapatkan waktu itu karena disebabkan oleh mengantuk yang teramat sangat” kata guru kami selanjutnya.

Pada malam-malam tersebut dan khususnya pada malam 27 Ramadhan kami tetap menyalakan lilin disekeliling rumah ataupun obor dan mainan yang kesemua itu untuk menerangi perkampungan yang masih belum terjamah oleh listrik waktu itu dan tidak seperti sekarang ini. Dan orang-orang tua serta orang alim biasanya banyak merenung di mesjid, dari yang mengaji, berzikir dan semua menghadap Mighrab guna mengharapkan menemui sesuatu yang selalu dicari yakni Lailatul Qodar. Kebiasaan tersebut sampai kini masih tetap dilanjutkan oleh anak-anak kampung kami meski dalam bentuk yang agak berbeda, dan hal ini sering disaksikan oleh penulis pada saat pulang kampung pada bulan Ramadhan.

Setelah kita beranjak dewasa dan perjalanan hidup telah banyak dilewati dengan berbagai macam pergulatan dunia, berangsur angsur pula kita menyadari bahwasanya Lailatul Qodar itu tidaklah pernah kita temui dan kitapun mulai curiga akan perkataan orang-orang tua serta guru tersebut. Kita tidak pernah menemui yang namanya gunung dan kayu-kayu sujud apalagi rumah dan ironisnya melihat orang yang sujudpun kadang kita menjumpai hal yang langka kecuali dimesjid dengan ukuran yang sama sekali tidak sebanding dengan jumlah penduduk disekitar mesjid tersebut. Dalam hati kita mulai curiga kepada yang menerangkan kepada kita akan hal-hal aneh yang tidak masuk akal itu. “Apakah benar ada Lailatul Qodar itu ?”.
…………………………….

Suatu ketika Umar Bin Khattab berjalan dengan tergesa-gesa sambil menenteng pedang terhunus dan ditengah jalan ia dicegah oleh seseorang sembari bertanya :
  • Hendak kemanakah kiranya kamu Hai Umar ?
  • Umar langsung menjawab “Saya mau mencari Muhammad dan akan membunuhnya karena dia telah banyak menyesatkan banyak orang dengan dakwah-dakwahnya.
  • “Sebaiknya sebelum kamu membunuh Muhammad ya Umar alangkah baiknya jika engkau menemui saudara perempuanmu dulu, sebab Saudara perempuanmu itupun telah ikut ajaran yang dibawa oleh Muhammad itu (Islam)”.

Segera Umar membalikkan tubuhnya menuju rumah Saudara perempuannya, sesampai dirumah tersebut tanpa basa-basi Umar langsung menendang pintu dan melihat adik serta laki adiknya sedang belajar (membaca) sesuatu dan ketika melihat Umar datang adiknya langsung menyembunyikan tulisan dari kulit unta tersebut kebalik bajunya. Tanpa banyak bicara Umar langusung membanting adik iparnya dan menyusul menangkap adiknya serta berteriak “Apa yang kamu baca, dan apa yang kamu sembunyikan dibalik bajumu ?”. Adiknya menjawab “Itu adalah ayat Qur’an dan abang tidak boleh membacanya karena abang masih musyrik dan masih najis. Tanpa peduli akan ucapan adiknya, Umar langsung menemplengnya hingga bibir adiknya pecah dan segera menyentakkan buku dari tangan adiknya tersebut.

Buku itu dibuka oleh Umar dan dia menemukan Ayat yang tersurat dilembaran buku tersebut yaitu pangkal Surah Thoha ayat 1-4

1. Thaahaa.
2. Kami tidak menurunkan Al Quran ini kepadamu untuk menyusahkan dirimu;
3. Tetapi sebagai peringatan bagi orang yang takut (kepada Allah),
4. Yaitu diturunkan dari Allah yang menciptakan bumi dan langit yang tinggi.

........... badannya langsung gemetar karena serasa yang dibacanya tadi dicurahkan khusus untuknya, segera Umar tertunduk lesu dan sambil berpegangan ke dinding rumah, ia bertanya dengan suara pelan kepada adiknya “Dimana Muhammad sekarang berada?”, “kami tidak akan mengatakannya kepadamu”, “Tolonglah katakan, Saya mau masuk Islam”. Dengan perasaan riang gembira kedua adiknya langsung mengucapkan “Allohu Akbar” serta menununjukkan kepada bahwa berada dirumah sahabat Arqom bin Arqom.

Itulah sekelumit kisah perjalanan Umar Bin Khattab diawal Islamnya dan hingga sejarah mencatat hingga kini. Sampai suatu ketika Nabi kita SAW pernah berkata “Setelah saya tidak ada lagi nabi atapun rasul, dan seadainya masih ada juga, maka orang yang pantas menjadi Nabi/Rasul adalah Umarlah orangnya”. Umaiyah Bin Abu Syofyan pernah berkata “Adapun Abubakar Siddiq, dunia tidak pernah menginginkannya dan diapun tidak ingin akan dunia ini, sedangkan Umar Bin Khattab, dunia sangat menginginkannya tetapi dia tidak butuh dengan dunia ini, sementara kita sekalian telah berlumuran dengan Lumpur dunia dari kepala hingga ke perut”. Sebagaimana kita ketahui beliau adalah Seorang pemimpin umat yang bisa menggabungkan antara Ulama dan Umaro.

Bila kita menilik kepada sekitar kita ataupun jika kita membaca sejarah, banyaklah lagi yang kita temui perjalanan hidup seseorang seperti Umar Bin Khattab tadi, dimana pada mulanya orangnya jahil dan tiba-tiba oleh sesuatu hal kekuasaan Allah orang tersebut langsung berbalik menjadi orang besar dan Ulama dan bahkan Non-Muslim sendiripun sering kita jumpai berbondong-bondong masuk Islam dan menjadi Kiayi, Ulama dan sebagainya dalam waktu yang sangat singkat.

Setelah menelaah Qur’an atapun hadist maka kita dapatkanlah bahwa Malam Lailaitul Qodar itu adalah malam yang diberkati sebagaimana panjang lebar diuraikan dalam Surah Al-Qodr dimana pada malam itu malaikat turun bersama ruh dan juga malam itu lebih mulia dan lebih baik dari pada seribu bulan. Perlahan-lahan hati kitapun luluh dan menyadari bahwasanya banyak sekali orang yang menjumpai malam tersebut dan mendapatkan sesuatu yang lebih berharga dari pada dunia dan seisinya (apatah kalau cuma dibandingkan dengan sebuah sepeda seperti permintaan Qodir kawan saya tersebut) sebagaimana Umar Bin Khattab tadi, dimana hati yang tadinya sekeras batu dan sanggup membunuh anak perempuannya sendiri hidup-hidup sampai akhirnya beliau menjadi apa yang selalu kita sebut dengan Khulafa’urrosyidin, inilah satu detik yang merubah hidupnya.

Tentang keraguan kita tadi akan perkataan orang-orang tua dan guru agama bahwa jika kita mendapai Lailatul Qodar maka kita akan mendapati seisi alam sujud? … Masya Allah … yang demikian itupun sebenarnya tersurat dalam Alqur’an yaitu pada surah Al-Hajj-18

"Apakah kamu tiada memperhatikan, bahwa kepada Allah bersujud apa yang ada di langit, di bumi, matahari, bulan, bintang, gunung, pohon-pohonan, binatang-binatang yang melata dan sebagian besar daripada manusia? dan banyak di antara manusia yang telah ditetapkan azab atasnya. dan Barangsiapa yang dihinakan Allah Maka tidak seorangpun yang memuliakannya. Sesungguhnya Allah berbuat apa yang Dia kehendaki"

dan keterangan-keterangan seperti ini kita temui juga dalam surah lain (mis. Surah Arrohman dan lainnya). Dan kenapa sampai sekarang kita tidak pernah melihatnya, hal ini tidak lain disebabkan karena memandang seluruh ciptaan Allah ini selalu kita pakai dengan dua mata telanjang yang sangat terbatas jangkauannya padahal untuk membaca ciptaanNya kita tidak selalu bisa menggunakan mata tersebut. Jika kita belajar Tauhid, maka disana jelaslah bahwasanya kita diwajibkan untuk beriman kepada : Allah, Malaikatnya, Kitab2nya, Rasul2nya, Hari Kiamat dan Qodho/Qodar, semua ini adalah Ghoib dari penglihatan mata kita, kecuali Al-Qur'an yang sampai saat ini masih bisa kita baca, tetapi tetap saja kita beriman. Hal ini tidak lain dan tidak bukan karena Ilmu yang kita pelajari dan Hidayah yang diberikan Allah SWT kepada kita sekalian. Kita beriman kepada Allah pencipta Alam Semesta atas sifat wajib dan mustahil serta yang harus bagiNya, kita beriman dengan malaikat, beriman dengan kitab yang telah diturunkan kepada nabi2 dari Nabi adam hingga nabi kita Muhammad SAW, kita beriman kepada Nabi/Rasul2 yang diutusNya, hingga nabi kita Muhammad SAW yang jaraknya dengan kita sekarang ini sudah 1420 tahun lebih, kadang seolah2 jarak antara kita dengan beliau masih dekat jika kita sering2 bersholawat kepada beliau dan mempelajari ajaran2 Agama yang dibawanya, begitu juga dengan hari kiamat, kita percaya bahkan kadang sering membayangkan bahwa kita sudah berpulang, kemudian kita dimandikan, dikafani, di sholatkan diantara ke pintu kubur hingga kita sendirian didalam kegelapan, mendapat siksa jika kita orang yang berdosa, tidur menunggu hari berbangkit jika kita termasuk orang yang beruntung, kemudian kita dibangkitkan menuju padang mahsyar untuk kemudian disidang di Mahkamah Qodhi Robbul Jalil, dan kita menyaksikan diri kita berjalan diatas Shirot, terjatuh menuju Neraka atau terus berjalan menuju Syurga, begitu juga dengan Qodho dan Qodar, semua itu adalah Ghoib dari penglihatan kita, tetapi tetap saja kita beriman. Hal ini tidak lain dan tidak bukan karena Allah SWT memberikan kita Ilmu untuk itu, dan jika tidak mustahil kita bisa beriman dengan yang Ghoib.

Selanjutnya Saudara bertanya, berarti Lailatul Qodar tidak hanya bisa dijumpai pada malam-malam bulan Ramadhan ? jawabannya “Tepat” Hal ini akan kita dapati juga pada waktu-waktu lain ….Insya Allah…. jika kita benar-benar masuk kedalam Islam sebagaimana disebut Allah dalam surah Al-Baqoroh ayat … "Masuklah kamu kedalam Islam dengan sebenarnya dan jangan sekali-kali mengikuti langkah-langkah Syetan karena ia musuhmu yang sangat nyata". Kenapa Rasullullah menyuruh kita mencari pada malam-malam bulan Ramadhan ? jawabnya karena siangnya kita telah berpuasa, malamnya kita melaksanakan Qiyamul Lail (Tadarus, Tarawih, Witir dll) apatah lagi sepuluh malam-malam yang terakhir yang Rasullullah sendiri pernah mengatakan bahwa sepuluh malam terakhir adalah malam pembebasan dari Neraka dan beribadah seperti ini tidaklah kita temui dibulan-bulan yang lain selain Ramadhan. Jika kita sudah terbebas dari Neraka bagaimana mungkin kita tidak bisa menyaksikan semua kekuasaan Allah ini ? Yang pasti, dulu kita sangat percaya akan Lailatul Qodar ini, kemudian kita ragu, dan selanjutnya kita yakin seyakin-yakinnya bahwa benarlah apa yang diceritakan oleh guru tersebut, hanya saja pengalaman rohani kita kadang sulit untuk kita ceritakan kepada orang lain. Imam Al-Ghozali pernah berkata “Seandainya saya ceritakan kepada kalian apa-apa yang saya rasakan pasti kalian akan menuduh saya orang gila”

Ramadhan 1428 sudah diambang pintu, moga-moga Allah SWT memberikan kita semua umur yang panjang dan kita masih bisa ikut dalam kompetisi kali ini, Amin. Mari sama-sama kita pergunakan waktu yang sedikit ini khususnya bulan Ramadhan kali ini dengan ibadah puasa pada siangnya, iktikaf di masjid, sholat wajib, tarawih serta witir dan tadarus al-Quran, menjelang sahur sholat tahajjudlah, selepas sahur dirikanlah sholat sunnah Fadjar, berzikir barang sejenak dengan Subhanallohi Wabihamdih, Subhanallohil Adzim, perbanyaklah Istigfar, dan perbaiki iman dengan Kalimat Lailaha Illalloh, kemudian tutup dengan do’a "Allohumma Inna nas aluka ridhoka waljannah, wanauzubika min sakhotika wannar", mogo-moga Allah SWT membuka hijab dan kitapun akan menemui Lailatul Qodar tersebut, tidak dapat seluruhnya, sebagian kecil sajapun cukuplah...… Insya Allah satu detik yang akan merubah kita seribu bulan. Singkirkan dari pikiran kita untuk sementara mengejar dunia dan janganlah rakus dengan dunia, karena sebanyak apapun dunia yang kita kumpulkan tidak lebih dari sekedar pengisi perut, tidak lebih dari sekadar pakaian penutup aurat dan kelak kita akan dikembalikan kepada Allah SWT pun hanya berlapis tiga kain kafan. Dunia ini perlu, dan sangat perlu memang betul sebagaimana kebanyakan dari kita merasakan sendiri betapa susahnya untuk mengurusi masalah duniawi ini, namun meski demikian, sebagai hamba Allah yang paling sempurna janganlah kita korbankan akhirat, "Janganlah dunia ini (harta dan keluarga) menghalangi kamu dari mengingat Allah, dan barangsiapa yang memperbuat demikian maka termasuklah dia orang yang merugi" (QS: Al-Munafiqun Ayat 9)

MARHABAN YA RAMADHAN 1248 H, MOHON KEMAAFAN LAHIR DAN BATIN



Catatan :

Penulis mengambil patokan dari Renungan Tasauf Alm. Prof. Dr. Hamka yang mana beliau ini adalah guru saya secara tidak langsung, karena saya banyak mengambil ilmu dari buku-bukunya, kemudian ditambah dengan apa yang saya dapat di Pengajian Rutin yang saya ikuti dikampung ataupun ditempat lain dan perjalanan kehidupan Penulis sendiri, moga2 bermanfaat, Amin.