ﻪﺘ ﺎﮐﺮﺒﻮ ﷲ ﺔﻤﺤﺮﻮ ﻢﻜﻴﻟﻋ ﻢﻼﺴﻟﺍ

Selamat Datang di http://nasutions.blogspot.com/
Blog ini hanyalah bersifat pribadi dan dibuat juga sekedar iseng sambil belajar, jadi sangatlah wajar jika isinya hanya sebatas ilmu penulis yang sangat sedikit. Semua ini hanya mengisi waktu luang disamping kesibukan bekerja dan dorongan kewajiban untuk berda'wah meski hanya satu ayat, mudah-mudahan bermanfaat bagi pembaca dan penulisnya, Amin ya Arhamarrohimin.
"Saran serta kritik membangun sangat kami harapkan dari pengunjung".
Hak Cipta Sepenuhnya milik Allah SWT, Wassalam.

Jumat, Desember 28, 2007

Kewajiban Menuntut Ilmu




Mungkin kita sering bertanya-tanya dalam hati, sebatas manakah kewajiban kita dalam menuntut ilmu? Adalah setiap pekerjaan yang wajib untuk kita kerjakan dalam kehidupan ini, maka wajib pula hukumnya untuk menuntut ilmunya dengan kata lain :
  • Kita diwajibkan untuk bertauhid, maka wajib hukumnya bagi kita untuk mempelajari ilmu tauhid.
  • Kita diwajibkan untuk sholat, maka wajib pula hukumnya bagi kita untuk menuntut ilmu tentang sholat.
  • Kewajiban untuk mengeluarkan zakat, wajib hukumnya bagi kita untuk menuntut ilmu tentang zakat.
  • Begitu juga dengan Puasa, Haji, Jihad jika sudah sampai kewajiban atas kita dan sebagainya, adalah merupakan kewajiban bagi kita ummat Islam untuk menuntut ilmunya sebatas pekerjaan tersebut merupakan pekerjaan yang diwajibkan bagi kita.

Selanjutnya sebatas apa kewajiban kita dalam menuntut ilmu tersebut?

  • Tauhid, wajib atasmu untuk mensyahkan iktikad dan membersihkan tauhidmu. Bagaimana jika saya menuntut ilmu tauhid supaya saya bisa membatalkan agama selain Islam dan dengan ilmu itu saya membantah sesuatu yang bid'ah dengan sunnah? Maka hal tersebut adalah hukumnya Fardhu Kifayah.
  • Tidak dibolehkan (diharamkan) bertengkar dalam mempermasalahkan hukum agama dan boleh jika kita menyampaikan pendapat. Pernah ada kejadian, dua orang bertengkar masalah Usholli (fiqh), padahal dua-duanya tidak ada yang sholat.
  • Sholat, diwajibkan kepada kita semua untuk mempelajarinya, dari Istinja' , rukun wudhu, rukun sholat, yang membatalkan wudhu, sholat, yang makruh atasnya, sah dan batalnya sholat.
  • Zakat, wajib hukumnya untuk mempelajari nisabnya, apa2 yang diwajibkan untuk dikeluarkan zakatnya, berapa ukurannya, berapa besarnya dan seterusnya. Di suatu kampung ada seorang petani dimana padinya sudah dia jual setelah selesai di rontokkan, dan kemudian dia membeli beras yang bagus untuk selanjutnya mengeluarkan zakatnya. Sepintas pekerjaannya kita lihat adalah pekerjaan yang bagus, tetapi tetap saja tidak syah, sebab padi yang dibayarkannya bukan lagi padi yang diambil dari sawahnya.
  • Puasa, wajib kita tuntut ilmunya, dari mana puasa dimulai, kapan waktu berbuka, apa yang membatalkan puasa, sunat puasa serta makruhnya. Dulu saya pernah punya kawan, beliau ini puasa sunat terus menerus setiap hari dan anehnya beliau ini tidak sholat, semua ini mungkin karena kekurangan kefahaman akan ilmu sholat dan puasa, mana diantara keduanya yang harus didahulukan.
  • Haji, diwajibkan menuntut ilmu haji, syarat dan rukunnya, kapan kita ihkram, kapan kita tawaf dan seterusnya, itulah yang belakangan ini disebut dengan Mansik Haji.
  • Wajib mengetahui yang disebut dengan Ikhlas.
  • Wajib mengetahui ilmu jual beli akan barang yang dibeli dan barang yang dijual.
  • Perkara Muamalah (nikah, talak dan sebagainya), adalah kewajiban bagi kita semua untuk mempelajarinya.

Wallohu 'A'lam. -nst-

Kamis, Desember 27, 2007

Iman kepada Malaikat

Beriman kepada Malaikat adalah Rukun Iman yang kedua setelah beriman kepada Allah SWT, dan beriman kepada Malaikat terbagi dua bagian : - Ijmal
- Tafisir

  • Wajib kita Iktikadkan bahwasanya Allah SWT mengutus malaikat dengan jumlah yang sangat banyak dan wajib kita ketahui tentang mereka, dimana para malaikat tidak makan dan minum, tidak tidur, tidak laki-laki, tidak perempuan, tidak dibekali dengan nafsu dan mereka maksum (terbebas dari dosa), tidak mati kecuali pada tiupan sangkakala pertama dan berbeda dengan manusia yang dipanggil Allah SWT satu persatu yang bisa kita jadikan sebagai pengajaran kepada ummat manusia. Yang paling akhir dicabut nyawanya dari seluruh penghuni alam ini adalah malaikat Isro'il dan nyawanya dicabut diantara Syurga dan Neraka dan pada saat dia sendiri hendak mencabut nyawanya, dia sempat berkata "seandainya saya tahu bahwa sakitanya sakarotil maut seperti ini, tidak akan mau saya menjadi malaikat pencabut nyawa", begitulah Allah SWT merahasiakan ini kepadanya. Para malaikat tidak dihisab karena mereka terbebas dari dosa selama-lamanya, mereka tidak pernah bermaksiat kepada Allah SWT.

Minggu, Desember 16, 2007

Cobaan Hidup

Kaum muslimin yang berbahagia,

Didalam kehidupan ini kita semua selalu diuji oleh Allah SWT, baik untuk urusan amwal (harta) ataupun anfus (diri), selama hayat masih dikandung badan tidak akan henti-hentinya cobaan itu datang silih berganti, selesai urusan yang satu datang urusan yang lain, demikian seterusnya. Guru saya pernah berkata : "Orang yang belum punya anak SUSAH berusaha dan berobat kesana sini, sudah punya anak SUSAH lagi untuk mencari belanjanya, sudah besar SUSAH lagi untuk memikirkan pendidikannya sudah dewasa SUSAH lagi mengurus perangainya, SUSAH, SUSAH dan SUSAH itulah sifat manusia". Perasaan seperti itu akan sambung menyambung terus selama kita masih hidup dan itu sudah sifat dari manusia, namun meski demikian Allah SWT selalu menyuruh kita untuk selalu Sholat dan Sabar karena cobaan demi cobaan yang dihadapi jika kita Ridho Insya Allah akan menjadi amal kebajikan juga untuk kita semua.

Sabtu, Desember 15, 2007

Juraiz dan Ibunya

Juraiz adalah seorang Pemuda yang taat beribadah dan hampir seluruh waktunya dihabiskan di masjid hingga sudah masyhur keseluruh negeri jika beliau ini adalah orang yang alim.
Suatu ketika Allah SWT mengujinya, tatkala Juraiz sedang melaksanakan sholat sunah, ibunya mencari dan memanggil Juraiz, dalam keadaan sedang sholat dan mendengar suara ibunya memanggil maka fikiran Juraiz bimbang antara membatalkan sholat untuk menjawab panggilan ibunya ataukah meneruskan sholat sunahnya. Ternyata Juraiz memilih untuk meneruskan sholat sunahnya dulu dan ibunya tetap memanggil dari luar masjid dan tidak tahu kalau Juraiz sedang sholat. Ibunya mengira jika Juraiz tidak mau menyambut panggilannya hingga terlontarlah doa dari mulut seorang ibu yang sangat dicintai Juraiz ini "Ya Allah, jangan matikan Juraiz hingga ia menemui seorang yang berperangai buruk", dan ternyata disaat-saat seperti itu do'anya seorang ibu tetap makbul terhadap anaknya.
Beberapa hari setelah itu, datanglah seorang perempuan yang cantik menghadap Juraiz dan mengajak beliau untuk berzina, Alhamdulillah setelah berjuang sekian lama ternyata Iman Juraiz tetap menang, beliau menolak untuk melaksanakan perbuatan itu hingga perempuan itu pergi sambil menahan malu, selesai? Belum. Ternyata perempuan itu tetap berusaha untuk merusak nama Juraiz dan dia pergi ke gurun tempat orang menggembala kambing dan disana dia menemui seorang penggembala sembari mengutarakan niatnya dan merekapun berzina ditempat itu.
Singkat cerita, perempuan itupun hamil dan dia terus mengasingkan diri hingga perut buncitnya kelihatan besar. Beberapa bulan kemudian perempuan itupun kembali ke kampung dan dia mengumpulkan orang banyak sembari berkata bahwa dia sudah berhasil membujuk Juraiz untuk berzina hingga sekarang perutnya sudah buncit dan sebentar lagi ia akan melahirkan anak Juraiz. Sepontan orang banyak menyoraki Juraiz yang selama ini diketahui seorang yang alim dan ternyata adalah seorang pezina, namun Juraiz tetap menolak dan berkata bahwa bukan dia yang menghamili perempuan itu, namun orang lain tetap tidak percaya hingga akhirnya Juraiz berkata "Sebaiknya begini saja, kita tunggu sampai dia melahirkan dan nanti kita tanya kepada anaknya siapa bapaknya", meski kedengarannya kurang masuk akal namun akhirnya hadirin setuju dengan perkataan Juraiz.
Ketika perempuan itu sudah melahirkan, kembali dikumpulkan orang banyak di tanah lapang dan Juraiz pun datang menghampiri perempuan itu sembari bertanya kepada anaknya siapa sebenarnya bapaknya, Allah SWT menunjukkan kekuasaannya dan ternyata anak itu bisa menjawab dan berkata "Bukanlah Juraiz bapak saya, tetapi ibu saya berzina dengan seorang penggembala kambing yang ada di kampung anu".
Apa Pelajaran yang kita ambil dari sini ? diantaranya :
  1. Doa seorang ibu tetap makbul terhadap anaknya meski dalam kondisi apapun selama bukan untuk melanggar perintah Allah.
  2. Bahwa sesuatu yang diperbuat dengan batil itu, maka Insya Allah batil juga hasilnya.
  3. Jika kita yakin kepada Allah dengan melaksanakan perintahNya dan menjauhi segala laranganNya, maka Allah tetap akan menolong kita.

Firman Allah SWT dalam Al-Qur'an surah Bani Isroil ayat (23, 24 dan 25)

  • Dan Tuhanmu telah memerintahkan supaya kamu jangan menyembah selain Dia dan hendaklah kamu berbuat baik pada ibu bapakmu dengan sebaik-baiknya. jika salah seorang di antara keduanya atau Kedua-duanya sampai berumur lanjut dalam pemeliharaanmu, Maka sekali-kali janganlah kamu mengatakan kepada keduanya Perkataan "ah" dan janganlah kamu membentak mereka dan ucapkanlah kepada mereka Perkataan yang mulia.
  • Dan rendahkanlah dirimu terhadap mereka berdua dengan penuh kesayangan dan ucapkanlah: "Wahai Tuhanku, kasihilah mereka keduanya, sebagaimana mereka berdua telah mendidik aku waktu kecil".
  • Tuhanmu lebih mengetahui apa yang ada dalam hatimu; jika kamu orang-orang yang baik, Maka Sesungguhnya Dia Maha Pengampun bagi orang-orang yang bertaubat.

Sabtu, Desember 08, 2007

Renungan Jum'ah (1) Perjalanan Sang Badan

Saudara-saudara kaum muslimin yang berbahagia!

Firman Allah Dalam Surah Al-Jum'ah ayat 8
Katakanlah: "Sesungguhnya kematian yang kamu lari daripadanya, Maka Sesungguhnya kematian itu akan menemui kamu, kemudian kamu akan dikembalikan kepada (Allah), yang mengetahui yang ghaib dan yang nyata, lalu Dia beritakan kepadamu apa yang telah kamu kerjakan".

Pertama dan utama sekali marilah kita sama-sama mengucapkan puji dan syukur kepada Allah SWT yang telah memberikan rakhmat dan karunianya kepada kita semua untuk dapat berkumpul ditempat yang berbahagia ini dengan satu niat dan tujuan kita bersama dalam melaksanakan ubudiah kepadaNya yakni Sholat Jum’at. Seiring dengan itu sholawat dan salam tidak lupa pula kita sanjungkan kepada Arwah junjungan kita Nabi Muhammad SAW yang sangat kita harapkan safaat beliau nanti di hari akhir, hari dimana Allah menyebutkan dalam Al Qur’an Yauma La Yanfa’u Maluw wala banun…, dengan selalu bersholatwat kepada beliau, Insya Allah kita akan diberikan pertolongan oleh Allah SWT. Amin Ya Robbal Alamin.

Saudara-saudara sekalian….

Alam ini telah diatur oleh Allah SWT dengan perputaran dan pergatian masa yang terus berlanjut hingga nanti sampai kepada hari Kiamat, dimana ada yang datang dan ada pula yang pergi. Dahulu kita tidak ada, kemudian kita ada, dan entah besok atau lusa kitapun akan kembali menghadap Allah SWT dan tempat serta kedudukan kita di dunia yang sekarangpun akan digantikan oleh orang lain, bisa anak, cucu ataupun siapa saja, termasuk didalam Masjid ini sendiripun, dahulu Imam, Khotib atau Muazzinnya adalah orang lain yang sekarang telah kembali ke khadirat Allah SWT dan kini kita gantikan oleh kita-kita dan seterusnya akan silih berganti antara datang dan pergi.

Kembali kita tilik firman Allah SWT tadi,

“Sesungguhnya kematian yang kamu lari daripadanya, maka kematian itu akan menemui kamu”. Adakah diantara kita ini yang berlari dari maut? Jawabannya tentu tidak jika kita saksikan secara langsung, akan tetapi jika kita perhatikan sekeliling kita banyak sekali orang yang tidak menginginkan kematian itu datang. Contohnya seorang kaya, baru terkena demam sedikit sudah langsung berobat ke dokter dengan takutnya, rambut kepala yang sudah memutih dicatnya menjadi hitam, kulit yang keriput dioperasi biar kencang kembali, gigi yang permisi satu persatu diganti dengan gigi baru dan lain-lain sebagainya. Semua itu tidaklah akan menjadi halangan bagi El-Maut untuk merenggut nyawa kita jika sudah cukup waktunya, biarpun kita lari kemana tempat diatas bumi Allah ini, atapun akan bersembunyi didalam peti besi. Yang pasti maut itu akan tetap menjemput entah nanti, besok, lusa atau kapan saja. Tidaklah harta kita yang bertumpuk itu akan dapat menolong kita dari mati, tidak juga mobil BMW kita yang mengkilat itu akan menghalangi, tidak juga anak dan istri kita. Jika ajal sudah sampai mau tidak mau, suka atau tidak suka, kita harus berangkat meninggalkan alam ke 2 kita ini yakni alam dunia. Tinggallah anak, tinggallah istri dan tinggallah semuanya.

Saudara-saudara kaum muslimin yang berbahagia!!!
Harta yang setengah mati kita mencari dan mengumpulkannya akan kita tinggalkan, istri dan anak yang kita cintai sepenuh hati akan kita tinggalkan, kemana kita akan pergi? “Dan kamu akan dikembalikan kepada yang mengetahui yang ghaib dan nyata” yakninya Allah SWT. Dari Dia lah kita ada, dengan Dia pula kita hidup didunia ini dan besok jika kembali, maka kepadaNya pulalah kita akan menghadap.
Setelah kita dimandikan, kemudian disholatkan untuk selanjutnya dipikul orang banyak diatas keranda, maka berangkatlah sang badan yang sudah tidak berdaya itu, harta benda, istri yang sangat engkau cintai, dan anak-anak serta keluarga dan sahabatmu melepas dengan tangisan yang memilukan dan dirimu akan diasingkan ketempat pemberhentian yang ketiga yaitu alam barzakh, alam dimana kamu akan berada untuk jangka waktu yang tidak diketahui.

Selepas itu, orang akan mengurug tanah menimbun dirimu, dan menginjak-injak tanah diatasmu, Selesai ? Belum ... Tujuh langkah orang yang terakhir meninggalkan kuburmu, maka datanglah dua malaikat yang menghebohkan didalam kehebohan gelap dan pekatnya kuburmu, menanyaimu dalam 6 (enam) persoalan 1. Siapa Tuhanmu? 2. Siapa nabimu? 3. Apa Agamamu? 4. Dimana Kiblatmu? 5. Siapa Imammu? 6. Sipa Saudaramu? , "lalu Dia beritakan kepadamu apa yang telah kamu kerjakan". Jika kamu beruntung, Insya Allah kamu akan selamat dan tidur menunggu dibangkitkan, akan tetapi jika nasibmu malang, maka kamu akan disiksa sepanjang masa menunggu saat Malaikat Isrofil meniup sangkakala pada tiupan yang pertama dan kamu akan ”Terombang-ambing dilautan menunggu belas kasihan dari keluarga yang engkau tinggalkan” sebagaimana sabda Rasulullah SAW, itupun jika mereka masih mau mengingat dan mendo’akan engkau dan apabila tidak, maka selesailah bagianmu.

Saudara-saudara kaum muslimin yang berbahagia!!!
Moga-moga dengan zikrul maut yang sedikit diatas, kembali menyadarkan kita semua untuk selalu menempuh jalan yang diridhoi oleh Allah SWT, Biarlah jadi gelandangan diatas dunia ini, asal tidak menggelandang di hadapan Allah nanti. Waktu masih ada, kesempatanpun masih diberikan, mari sama-sama bertaqwa kepada Allah SWT dan meninggalkan semua larangannya dengan sekuasa kita, dan jika Allah SWT memanggil kita besok hari, semoga kita semua akan menjadi orang yang Husnul Khotimah dan bukan sebaliknya, Amin Ya Arhamarrohimin. Hanya Allah yang benar, Wallohu A’lam.

Perjalanan Sang Badan

Saudara-saudara kaum muslimin yang berbahagia!

Firman Allah Dalam Surah Al-Jum'ah ayat 8
Katakanlah: "Sesungguhnya kematian yang kamu lari daripadanya, Maka Sesungguhnya kematian itu akan menemui kamu, kemudian kamu akan dikembalikan kepada (Allah), yang mengetahui yang ghaib dan yang nyata, lalu Dia beritakan kepadamu apa yang telah kamu kerjakan".

Pertama dan utama sekali marilah kita sama-sama mengucapkan puji dan syukur kepada Allah SWT yang telah memberikan rakhmat dan karunianya kepada kita semua untuk dapat berkumpul ditempat yang berbahagia ini dengan satu niat dan tujuan kita bersama dalam melaksanakan ubudiah kepadaNya yakni Sholat Jum’at. Seiring dengan itu sholawat dan salam tidak lupa pula kita sanjungkan kepada Arwah junjungan kita Nabi Muhammad SAW yang sangat kita harapkan safaat beliau nanti di hari akhir, hari dimana Allah menyebutkan dalam Al Qur’an Yauma La Yanfa’u Maluw wala banun…, dengan selalu bersholatwat kepada beliau, Insya Allah kita akan diberikan pertolongan oleh Allah SWT. Amin Ya Robbal Alamin.

Saudara-saudara sekalian….

Alam ini telah diatur oleh Allah SWT dengan perputaran dan pergatian masa yang terus berlanjut hingga nanti sampai kepada hari Kiamat, dimana ada yang datang dan ada pula yang pergi. Dahulu kita tidak ada, kemudian kita ada, dan entah besok atau lusa kitapun akan kembali menghadap Allah SWT dan tempat serta kedudukan kita di dunia yang sekarangpun akan digantikan oleh orang lain, bisa anak, cucu ataupun siapa saja, termasuk didalam Masjid ini sendiripun, dahulu Imam, Khotib atau Muazzinnya adalah orang lain yang sekarang telah kembali ke khadirat Allah SWT dan kini kita gantikan oleh kita-kita dan seterusnya akan silih berganti antara datang dan pergi.

Kembali kita tilik firman Allah SWT tadi,

“Sesungguhnya kematian yang kamu lari daripadanya, maka kematian itu akan menemui kamu”. Adakah diantara kita ini yang berlari dari maut? Jawabannya tentu tidak jika kita saksikan secara langsung, akan tetapi jika kita perhatikan sekeliling kita banyak sekali orang yang tidak menginginkan kematian itu datang. Contohnya seorang kaya, baru terkena demam sedikit sudah langsung berobat ke dokter dengan takutnya, rambut kepala yang sudah memutih dicatnya menjadi hitam, kulit yang keriput dioperasi biar kencang kembali, gigi yang permisi satu persatu diganti dengan gigi baru dan lain-lain sebagainya. Semua itu tidaklah akan menjadi halangan bagi El-Maut untuk merenggut nyawa kita jika sudah cukup waktunya, biarpun kita lari kemana tempat diatas bumi Allah ini, atapun akan bersembunyi didalam peti besi. Yang pasti maut itu akan tetap menjemput entah nanti, besok, lusa atau kapan saja. Tidaklah harta kita yang bertumpuk itu akan dapat menolong kita dari mati, tidak juga mobil BMW kita yang mengkilat itu akan menghalangi, tidak juga anak dan istri kita. Jika ajal sudah sampai mau tidak mau, suka atau tidak suka, kita harus berangkat meninggalkan alam ke 2 kita ini yakni alam dunia. Tinggallah anak, tinggallah istri dan tinggallah semuanya.

Saudara-saudara kaum muslimin yang berbahagia!!!
Harta yang setengah mati kita mencari dan mengumpulkannya akan kita tinggalkan, istri dan anak yang kita cintai sepenuh hati akan kita tinggalkan, kemana kita akan pergi? “Dan kamu akan dikembalikan kepada yang mengetahui yang ghaib dan nyata” yakninya Allah SWT. Dari Dia lah kita ada, dengan Dia pula kita hidup didunia ini dan besok jika kembali, maka kepadaNya pulalah kita akan menghadap.
Setelah kita dimandikan, kemudian disholatkan untuk selanjutnya dipikul orang banyak diatas keranda, maka berangkatlah sang badan yang sudah tidak berdaya itu, harta benda, istri yang sangat engkau cintai, dan anak-anak serta keluarga dan sahabatmu melepas dengan tangisan yang memilukan dan dirimu akan diasingkan ketempat pemberhentian yang ketiga yaitu alam barzakh, alam dimana kamu akan berada untuk jangka waktu yang tidak diketahui.

Selepas itu, orang akan mengurug tanah menimbun dirimu, dan menginjak-injak tanah diatasmu, Selesai ? Belum ... Tujuh langkah orang yang terakhir meninggalkan kuburmu, maka datanglah dua malaikat yang menghebohkan didalam kehebohan gelap dan pekatnya kuburmu, menanyaimu dalam 6 (enam) persoalan 1. Siapa Tuhanmu? 2. Siapa nabimu? 3. Apa Agamamu? 4. Dimana Kiblatmu? 5. Siapa Imammu? 6. Sipa Saudaramu? , "lalu Dia beritakan kepadamu apa yang telah kamu kerjakan". Jika kamu beruntung, Insya Allah kamu akan selamat dan tidur menunggu dibangkitkan, akan tetapi jika nasibmu malang, maka kamu akan disiksa sepanjang masa menunggu saat Malaikat Isrofil meniup sangkakala pada tiupan yang pertama dan kamu akan ”Terombang-ambing dilautan menunggu belas kasihan dari keluarga yang engkau tinggalkan” sebagaimana sabda Rasulullah SAW, itupun jika mereka masih mau mengingat dan mendo’akan engkau dan apabila tidak, maka selesailah bagianmu.

Saudara-saudara kaum muslimin yang berbahagia!!!
Moga-moga dengan zikrul maut yang sedikit diatas, kembali menyadarkan kita semua untuk selalu menempuh jalan yang diridhoi oleh Allah SWT, Biarlah jadi gelandangan diatas dunia ini, asal tidak menggelandang di hadapan Allah nanti. Waktu masih ada, kesempatanpun masih diberikan, mari sama-sama bertaqwa kepada Allah SWT dan meninggalkan semua larangannya dengan sekuasa kita, dan jika Allah SWT memanggil kita besok hari, semoga kita semua akan menjadi orang yang Husnul Khotimah dan bukan sebaliknya, Amin Ya Arhamarrohimin. Hanya Allah yang benar, Wallohu A’lam.

Jumat, Desember 07, 2007

Kamu Tidak Tahu


“Boleh jadi kamu membenci sesuatu, tetapi ia baik bagimu dan bisa jadi kamu cinta kepada sesuatu, tetapi ia membawa kehancuran bagimu, karena Allah Maha Mengetahui dan kamu tidak tahu” (QS Al-Baqoroh 216 ). Ketika membaca ayat tersebut diatas, seketika penulis teringat kepada seorang kawan tatkala ia melatih anaknya yang baru berumur 5 tahun untuk berpuasa pd bulan Ramadhan dengan iming-iming dibelikan sepeda. Dengan sabar ia membujuk anaknya untuk berpuasa, dan membangunkannya ketika sahur. Anaknya menangis dalam gendongannya dan disuapin untuk makan sahur. Keesokan harinya anaknya berpuasa, dan sampai menjelang waktu ashar anaknya sudah kepayahan dan menangis, tetapi ibunya dengan setia menggendongnya tanpa menghiraukan adiknya yang masih berumur dua tahun. Anaknya kemudian berkata “Ma, mungkin sebentar lagi saya akan mati, adik sudah lemah”, dengan menangis ibunya tetap membujuk bahwa tidak akan mati org yang berpuasa. Kemudian dia mengadu kepada kepada bapaknya, dengan menangis bapaknya juga berkata demikian dan dalam hati bapaknya berkata “Bukan aku tidak mencintai engkau nak, tetapi ini adalah aqidah”, aku takut nanti mempertanggung jawabkan engkau di yaumuil mahsyar dihadapan Qodhi Robbul Jalil”. Alhamdulillah anaknya kuat berpuasa sepanjang bulan Ramadhan tanpa ada yang tertinggal. Akhwan wa Akhwat yang tercinta, kisah kecil diatas moga2 bermanfaat bagi kita bahwasanya belum tentu keburukan yang kita pandang akan menghancurkan kita, begitu juga sebaliknya belum tentu kebaikan yang kita pandang akan membahagiakan kita, Selamat bekerja dan berdo’a, Allah selalu bersama org2 yang shabar. Wallohu A'lam.

Kamis, November 29, 2007

Mencari Kebenaran ala Salman El Farisi

Bismillahirrohmanirrohim.

Salman El Farisi berasal dari Parsi atau Persia (Iran sekarang), dilahirkan disebuah kampung bernama Jaiyi dengan keluarganya berasal dari Asfahan dipedalaman Parsi. Diwaktu kecil dan remaja Salman tidaklah seperti kawan-kawannya yang bebas bermain sesuka hati, tetapi Salman lebih cenderung jadi orang pingitan oleh kedua orang tuanya yang sangat taat dengan agama Majusi (Penyembah Api), dan pada waktu-waktu tertentu Salman kecil selalu menyiapkan penyembahan dan menjaga tempat ibadat mereka agar api yang disembah tidak padam dan hampir sepanjang hari dia dikurung di dalam rumah. Hingga suatu hari ia disuruh ayahnya untuk menjaga ladang mereka dan sebelumnya bapaknya berpesan agar Salman kecil tidak mau dipengaruhi oleh orang lain, namun meski demikian Salman kecil tetap berjalan menuju sebuah biara (gereja nasrani) dan dia melihat orang-orang beribadat dan ditanya oleh Salman darimana agama itu berasal, maka dijawab oleh Rahib (Pendeta) bahwa agama itu berasal dari Sirya (Syam). Sorenya ia kembali kerumahnya dan fikirannya mulai kacau mengingat agama yang ia saksikan tadi dengan agama nenek moyang mereka (menyembah api). Ternyata kedatangan Salman tadi ke Biara diketahui juga oleh Bapaknya dan Salman dimarahi oleh orangtuanya karena perlahan-lahan hati Salman berkeyakinan bahwa Agama Nasrani lebih baik daripada agama yang disembah oleh keluarganya (Majusi). Suatu ketika Salman pernah berkata kepada orang tuanya "saya melintasi suatu kaum yang sedang beribadat dan saya kira agama mereka jauh lebih baik dari agama kita" orangtuanya langsung berkata bahwa agama nenek moyang mereka jauh lebih baih dari agama Nasrani tetapi Salman muda tetap berkeras hati bahwa agama Nasrani lebih baik dari agama mereka. Akhirnya Ayahnya merantai kaki Salman dirumah supaya tidak bisa bergerak bebas kemana-mana apalagi pergi ke Biara, namun Kehendak Allah tidak seorangpun yang bisa tahu, Salman berhasil meloloskan diri dan lari meninggalkan keluarga yang dicintainya demi mencari kebenaran yang ada dalam hatinya dan dia mengikuti kafilah-kafilah Nasrani menuju Sirya (Syam) dan ia bertemu dengan pendeta disebuah Biara kemudian Salman mengutarakan Niatnya untuk mendalami agama Nasrani dan tinggal dengan pendeta itu di Biara tetapi sayangnya Pendeta yang dia sangka baik ternyata seorang yang mengumpulkan harta orang lain untuk keperluan pribadinya, tidak lama kemudian pendeta ini meninggal dunia.
Selanjutnya Salman muda mencari seorang pendeta yang lain yang alim dan dengan pendeta inipun Salman terus belajar hingga pendeta itu meninggal dunia dan sebelum meninggal, Salman sempat bertanya kemana lagi ia akan pergi dan gurunya mengatakan agar menemui pendeta di Musol. Lalu Salman pindah lagi kepada Pendeta yang ketiga yang juga alim serta baik budinya dan dari sinilah Salman mendapat khabar bahwa akan lahir seorang nabi baru dengan tanda-tanda kenabian, Allah SWT memberi Hidayah kepada Salman untuk menuju Yastrib (Madinah sekarang) sesuai dengan yang disampaikan pendeta yang ketiga tadi dimana Nabi yang baru itu berasal dari tanah Arab dan akan berpindah kesuatu tempat yang dikelilingi oleh pegunungan dan kebun tamar (Kurma). Rasanya Salman sudah tidak sabar ingin bertemu nabi itu dan disebuah tempat bernama Wadi Al-Quro, Salman dan kafilah dagang yang diikutinya berhenti dan ternyata kafilah yang membawanya ingin mengambil upah dari Salman dan akhirnya mereka menjual Salman kepada seorang Yahudi dan jadilah Salman menjadi seorang budak belian dan dia dikurung oleh majikannya dan sebelumnya Salman mengira bahwa Lembah Wadi itulah tempat hijrahnya nabi yang baru tadi.
Perjalanan Salman tidak berhenti sampai disitu, Allah SWT lebih tahu akan apa-apa yang tersirat dihati seorang Salman El Farisi untuk menuju kebenaran yang hakiki hingga seseorang Yahudi yang lain dari Bani Quraishoh membeli Salman dan kemudian dibawa ke Yastrib (Madinah). Setelah sampai di Madinah, Salman melihat tanda-tanda daerah yang pernah dipesakan oleh pendeta yang dahulu maka Salman berkata dalam hati "Demi Allah, inilah negeri yang saya cari". Dan pada waktu itu di Madinah orang sedang ramai berkumpul untuk menyambut kedatangan seorang Nabi dan Rasul yang terakhir hingga ada yang memanjat batang kurma dengan berteriak-teriak untuk menyaksikan kedatangan Rasulullah SAW. Tidak lama setelah itu datanglah sepupu majikannya dan dengan tidak sadar berkata "Celakalah Bani Kailah, mereka berkumpul di Kuba untuk menyambut seseorang dari Makkah yang mengatakan dirinya sebagai Nabi", Jantung Salman semakin berdegup kencang dan dia bertanya kepada sepupu majikannya, namun ia ditampar oleh mereka dan mengatakan "Uruslah pekerjaanmu dan jangan ikut-ikutan masalah ini". Namun akhirnya Salman tetap juga dapat perkabaran bahwa nabi itu adalah Muhammad SAW.
Pendeta yang ditemui Salman yang terakhir pernah berkata bahwa tanda-tanda kenabian itu ada dua, yaitu :
1. Dia tidak akan menerima shodaqoh
2. Ada tanda-tanda dibahunya sebelah belakang.
Salman tetap berusaha untuk menemui Nabi tersebut dengan menyelinap dari penjagaan majikannya dan Salman membawa makanan yang disebutnya sebagai shodaqoh dan ternyata nabi itu tidak mengambilnya, keesokan harinya Salman kembali membawa makanan yang mana kali ia sebut sebagai hadiah dan ternyata nabi itu mengambilnya, alangkah girangnya hati Salman dan sekarang tinggal satu langkah lagi yaitu tanda-tanda di bahunya.
Suatu hari ketika ada seorang sahabat yang meninggal dunia dan nabi itu datang untuk mengkebumikan, nabi itu dipandangi terus oleh Salman dan akhirnya Rasulullah SAW mengerti juga dan membuka sedikit baju yang dipakainya dan terlihatlah oleh Salman tulisan yang ada di bahu belakang Rasulullah (yang sering disebut dengan Khotamunnubuah), sepontan Salman membuka kalung Salib dari emas yang dipakainya dan langsung memeluk Rasulullah serta mengucapkan dua kalimah syahadat "Asyhadu Alla Ilaha Illalloh, Wa'asyhadu Annaka Muhammadarrosululloh". Selanjutnya Salman mengatakan kepada Rasulullah jika dia masih seorang budak Jahudi dan Rasulullah serta Sahabat yang lain akhirnya memerdekakan Salman Al Farisi. Terbayang oleh penulis ketika Rasulullah membuka bahunya seolah-olah berkata "Apa lagi yang kamu tunggu duhai Salman?, ini buktinya tanda-tanda kenabian saya jika itu yang kamu ragukan".
Demikianlah perjalanan seorang Majusi, yang kemudian menjadi Nasrani, hingga akhirnya menjadi seorang Muslim, Sahabat Rasulullah SAW yang terkenal ketika memberi saran kepada Rasulullah untuk membuat parit (khandaq) dalam Perang Ahzab (Khandaq) dan Rasulullah sendiri memberikan titel yang tinggi kepada Salman yaitu "Ahlul Bait" Ahli Rumah (Keluarga Rasulullah),
Wallohu A'lam -nst-

Senin, November 26, 2007

Pembukaan


Bismillahirrohmanirrohim,

Guna menambah posting dalam penulisan blog ini, Insya Allah kedepan akan diisi dengan pengajian-pengajian yang kami ikuti, baik pengajian yang lama yang masih ada dalam catatan kami ataupun pengajian-pengajian yang baru. Moga-moga pembaca tidak berpaling dari tulisan kami ini meski kami sangat yakin jika yang kami tulis ini tidaklah ada apa-apanya dan hanyalah sebatas tugas kita yaitu berda'wah sebab selama jasad masih dikandung badan tugas ini belumlah selesai.
.................. Pembukaan
Setelah sekitar dua bulan kita tidak mengadakan majelis taklim, yaitu semenjak memasuki bulan Ramadhan 1428 H dan sekarang sudah tanggal 15 Zulqo'dah sudah barang tentu ada sebagian dari pada pengajian-pengajian kita yang telah lampau yang mungkin terlupa dalam ingatan kita khususnya dalam bidang Tauhid, maka pada pengajian kali ini kita belum membuka kitab, tetapi sekedar selayang pandang mengenai perjalanan tauhid dimana belakangan ini marak terdengar adanya Nabi Palsu, dan hal ini tentu saja sangat erat kaitannya dengan Tauhid dimana kita Ummat Islam harus beriktikad bahwasanya Nabi Muhammad SAW adalah nabi yang terakhir, Khotamil Anbiyai wal mursalin, Penutup daripada sekalian Nabi dan Rasul. Kedatangan nabi-nabi palsu ini sebenarnya bukanlah cerita baru sebaba sudah ada sejak zaman Rasulullah hingga sekarang ini dan beberapa diantaranya adalah orang Indonesia sendiri dari Musailamah Alkassab hingga Ahmad Musaddeq yang belakangan ini.
Yang disebut dengan beriman bukanlah hanya sekedar menghafal : Iman kepada Allah, MalaikatNya, KitabNya, RasulNya, hari Kiamat dan Qodho serta Qodar dari Allah SWT, seperti yang sering kita jumpai ditengah masyarakat dan khususnya bagi pengantin baru yang sudah barang tentu hafal akan yang demikian sebab memang dia menghafalnya ketika akan dinikahkan kalau tidak tentu saja nikah akan ditunda.
Yang disebut dengan beriman adalah Mengikrarkan dengan Lidah, Meyakini akan hati dan Melaksanakan dengan anggota badan. Beriman kepada Allah artinya Meyakini akan KeesaanNya, mengetahui betul sifat Yang Wajib, Mustakhil serta yang Harus bagiNya, guna untuk meneguhkan ke Imanan kita, mensyukuri semua pemberianNya, melaksanakan semua perintahNya dengan sekuasa kita dan seterusnya.

Beriman kepada Rasul artinya kita harus mengikuti semua sunnahnya

Selasa, November 20, 2007

Lebih Lanjut Tentang Niat


Haji (Antara Perintah dan Panggilan)


Pada minggu-minggu ini, saudara-saudara kita se aqidah sudah banyak yang berangkat menuju Baitullah dari segala penjuru dunia, semua ini tidak lain adalah untuk melaksanakan Rukun Islam yang terakhir yaitu "Ibadah Haji". Haji menjadi rukun Islam karena perintah Ibadah Haji sudah termaktub dalam Al-Qur'an dan Hadist Rasulullah SAW dengan persyaratan "Manistatho'a ilaihi sabila" Barang siapa yang sanggup untuk melaksanakan perjalanan kesana dengan kata lain : Sehat Jiwa dan Raga serta ada kesanggupan dalam hal materi (cukup ongkos dan biaya orang-orang yang kita tinggalkan yang menjadi tanggungan kita dalam hal ini adalah keluarga).
Meski Ibadah Haji adalah Rukun Islam namun penulis amati masih banyak juga saudara kita yang tidak mau untuk melaksanakan perintah tersebut dengan berbagai alasan klasik yang saya dengar, diantaranya :
  • Belum Ada Panggilan
  • Bukankah Panggilan untuk melaksanakan ibadah haji sudah ada sejak Al-Qur'an diturunkan? hingga Ibadah haji menjadi Rukun Islam?
  • Takut belum bisa menjadi seorang Haji
  • Sebenarnya tidak ada yang perlu ditakutkan, yang penting kita berusaha jika sepulangnya dari sana nanti amalan serta tingkah laku kita jauh lebih baik dibandingkan sebelum kita menjadi seorang Haji dan seminimalnya yang kita dapatkan kewajiban kita sudah gugur dan kita tidak termasuk orang yang melalaikan kewajiban disisi Allah SWT.
  • Takut nanti tidak bisa pulang lagi (mati)
  • Ketakutan seperti ini juga sangat tidak masuk akal, bukankah dimanapun kita berada jika ajal sudah datang malaikat maut akan tetap menjemput ? (lihat surah Al-Jum'ah ayat 8) "Sesungguhnya kematian yang kamu lari daripadanya, maka kematian itu akan menemui kamu..."
  • Tidak Bisa Membaca Qur'an / Bahasa Arab
  • Sebagian besar jamaah (khususnya Indonesia) tidaklah bisa berbahasa Arab, kita tinggal menghafal yang wajibnya saja dan tidak membutuhkan waktu yang lama (paling2 1 minggu sudah hafal). Dan bukankah setelah kembali nanti kita akan terpacu untuk belajar membaca al-qur'an karena kita sudah haji? Dan bukankah hal ini juga merupakan suatu kemajuan dalam kehidupan kita? Saya punya kawan yang sudah berumur 54 tahun, dan beliau sama-sekali tidak tahu huruf hijaiyah, namun berkat ketekunannya serta hidayah dari Allah SWT sekarang kawan saya tersebut sudah bisa membaca Al-Qur'an meski belum fasih betul.
  • Takut Akan Jatuh Miskin karena ongkos ke sana 30 jt
  • Yang ini susah untuk dibahas karena org ini perlu diberi pengertian dan pendalaman agama.

Berikut beberapa kisah yang penulis temui, moga2 jadi bahan untuk memacu semangat kita melaksanakan ibadah haji.

  1. Dikampung saya ada seorang guru mengaji yang hidupnya pas-pasan, tetapi niatnya untuk melaksanakan ibadah haji tetap tertanam dalam hati, hingga suatu saat dia dapat petunjuk untuk hijrah meninggalkan kampung kami dan pergi menjadi guru mengaji ke kampung Transmigrasi dan rupanya disana Allah SWT membukakan pintu rezeki baginya dan sekitar 4 tahun menjadi guru disana, maka jamaah sepakat untuk menyumbang dana guna ongkos beliau untuk naik haji, dan sekarang guru itu sudah menjadi haji.
  2. Disebuah Masjid di Pekanbaru saya menemui seorang Imam masjid yang pergi menunaikan haji juga karena urunan jamaahnya, dan dalam sambutannya ketika beliau mengadakan sedikit syukuran sebelum berangkat, maka beliaupun berkata : "Kalaulah dihitung dengan matematika maka saya ini tidaklah ada artinya", dan ketika bersalaman dengan beliau serta saya cium tangannya maka beliau langsung memeluk saya serta menangis dan berpesan kepada saya bahwa selama beliau melaksanakan ibadah baji, tolong bantu masjid ini agar jamaah tetap berjalan dan penulis mengiyakan sembari menagis juga. -nst-

Haji (Antara Perintah dan Panggilan)

Perintah untuk melaksanakan ibadah haji adalah Rukun Islam yang terakhir dan dasar untuk perintah ini termaktub dalam Al-Qur'an dan hadist nabi SAW dengan persyaratan yaitu "Manistatho'a ilaihi sabila", bagi siapa yang sanggup untuk melaksanakan perjalanan ke Baitullah : - Sehat Jasmani & Rohani

- Ada kesanggupan dalam hal materi.

Namun meski demikian sangat sering penulis dengar dari orang-orang lain yang secara materi sudah sanggup dan sehat jasmani dan rohani dan kebanyakan dari alasan yang mereka kemukakan adalah "Belum ada panggilan", padalah panggilan sudah ada sejak Al-Qur'an diturunkan, hal ini sebenarnya hanyalah sebuah alasan klasik untuk membenarkan pendapatnya. Lain halnya dengan Udin (kawan saya) beliau mengatakan belum siap untuk jadi ustad sekembalinya dari sana nanti, saya bilang kita tidak harus menjadi ustad namun perbaikan diri dari yang dahulu hingga kita disebut haji itupun sudah meningkatkan amalan namanya.

Selasa, November 06, 2007

Menuntut Ilmu

Tahun 1992, ketika penulis diberi hidayah oleh Allah SWT untuk kembali bisa melaksanakan perintahnya, maka penulis berusaha untuk sebanyak mungkin melaksanakan ibadah, baik yang wajib maupun yang sunat. Hingga pada Ramadhan tahun itu dan pada suatu ketika selesai sholat subuh dengan gagahnya saya berdiri dan sedikit rasa riya (karena yang lain pada duduk) untuk melaksanakan sholat Ba'diah. Kejadian ini berlangsung beberapa waktu kedepannya, hingga akhirnya saya mendapat ilmu tentang itu, bahwasanya tidak ada sholat sunat setelah sholat subuh kecuali sholat yang mempunyai sebab (misalnya : tahiyatul masjid, sholat dhuha, dst) kecuali di Masjidil Haram Makkah, maka sholat sunat tidak ada batasannya. Melihat persoalan tersebut diatas, maka semakin yakinlah kita bahwasanya Ilmu adalah merupakan pondasi dari segala amal perbuatan, tadinya bagi saya mungkin suatu perbuatan yang baik, orang lain yang memandang saya tertawa dan Allahpun tidak menerima.
Kejadian-kejadian seperti ini sering kita jumpai didalam kehidupan khususnya dalam masalah Fiqh, Suatu ketika saya menuju Pekanbaru dengan seorang bapak2 yang sudah lumayan tua dan ketika sampai di Sidempuan dan disaat maghrib tiba saya menjamak Sholat Maghrib dan Isya dan saya lihat bapak tersebut tidak sholat dan saya bertanya akhirnya dia menjawab : Saya tadi sudah mengQodho solat maghrib di waktu ashar tadi. Dan ketika ada pengajian dikampung saya barulah dia bertanya alm. kepada guru saya dan diterangkan oleh beliau bahwa tidak ada Qodho sebelum masuk waktu dan sebaiknya sholat tersebut adalah di Jamak takdim atau Jamak Takhir.
Kadang ada orang yang mashbuk (terlambat datang berjamaah) tidak menambah kekurangan sholatnya ataupun tidak mengetahui batas yang harus ditambah dan dikurangi.
Yang lebih Fatal (masalah Tauhid), ada seorang kawan saya yang mengatakan bahwa semua Agama didunia ini sama, dengan dalil semuanya menuju kepasar, hanya saja lewat jalan yang berlainan. Nauzu billah min dzalik
Untuk itu kepada kaum Muslimin sekalian marilah kita sama-sama menuntut ilmu supaya kita bisa beramal dengan baik di dunia ini, moga2 Allah SWT mengampuni dosa dan kesalahan-kesalahan kita dimasa lalu.

Senin, November 05, 2007

Jumat, November 02, 2007

Tafaqqur (Tasauf-6)

Didalam Agama Islam, kita sekalian dalam hidup ini diwajibkan / disuruh untuk tafaqqur / berfikir, karena dengan banyak berfikir akan mendatangkan 2 (dua) ilmu yang sangat bermanfaat, yaitu :
  1. Kita bisa mengambil iktibar bahwa semua yang kita saksikan dalam alam ini akan binasa. Dengan bahasa lain kita akan melihat bahwa alam ini adalah Baharu, dan hal ini dapat kita saksikan pada perubahan / pertukaran bentuk dan kejadian makhluk dan dengan demikian kita akan mengambil kesimpulan bahwasanya "Setiap setiap yang berubah adalah Baharu".
  2. Dengan banyak berfikir dan membaca alam ini semakin tumbuh rasa Cinta kepada PenciptaNya, contoh : Kita melihat diri kita yang sekarang, membandingkan dengan yang dahulu ataupun mereka-reka bentuk kita nanti pada saat tua bahkan setelah kita nanti menghadap Allah SWT (mati).

Hal-hal yang harus kita fikirkan antara lain :

  • Tuhanmu (dengan segala kebenaranNya).
  • Dirimu
  • Dan lain-lain di alam jagad ini

Kita diwajibkan untuk menghafal dan mengkaji semua Sifat Allah asal tidak mengkaji Zat (IzzatiNya) sebab jalan kesana tidak akan dibukakan oleh Allah SWT kepada kita dengan kata lain otak manusia tidak akan sampai kesana dan hal ini (Pengetahuan akan Zat Allah) akan dibatasi oleh sifatnya yang 4 (empat), yaitu : Mukholafatuhu Lil Hawadist. Seandainya ada seseorang yang mengatakan akan hal itu, maka yang dikatakannya itu adalah dusta. Selain dari Zat Allah SWT (alam dan segala isinya) boleh kita fikirkan / pelajari, misalnya pergantian siang dan malam, tumbuh-tumbuhan dan binatang-binatang yang ada dialam ini adalah merupakan bahan daripada Tafaqqur.

Dengan mempelajari akan diri kita, maka kitapun akan tahu dengan sendirinya Tuhan kita dimana Rasulullah SAW bersabda : "Siapa yang tahu akan dirinya, maka kenallah ia akan Tuhannya". Pendahulu-pendahu kita (Dari para Rasul, sahabat, Tabi'it Tabi'in, Tabi'in dst) selalu memnyempatkan diri untuk berfikir, dan dengan berfikir itu akan menimbulkan dua hal yang sangat berguna bagi kehidupan manusia ini :

  • - Lajunya Otak
  • - Menerangi Hati

Dalam Surah Ali Imran dapat kita lihat orang-orang yang ber Tafaqqur :

191. (yaitu) orang-orang yang mengingat Allah sambil berdiri atau duduk atau dalam keadan berbaring dan mereka memikirkan tentang penciptaan langit dan bumi (seraya berkata): "Ya Tuhan Kami, Tiadalah Engkau menciptakan ini dengan sia-sia, Maha suci Engkau, Maka peliharalah Kami dari siksa neraka.
192. Ya Tuhan Kami, Sesungguhnya Barangsiapa yang Engkau masukkan ke dalam neraka, Maka sungguh telah Engkau hinakan ia, dan tidak ada bagi orang-orang yang zalim seorang penolongpun.
193. Ya Tuhan Kami, Sesungguhnya Kami mendengar (seruan) yang menyeru kepada iman, (yaitu): "Berimanlah kamu kepada Tuhanmu", Maka Kamipun beriman. Ya Tuhan Kami, ampunilah bagi Kami dosa-dosa Kami dan hapuskanlah dari Kami kesalahan-kesalahan Kami, dan wafatkanlah Kami beserta orang-orang yang banyak berbakti.

Wallohu A'lam

Kamis, November 01, 2007

Niat Iklash dan Sir (3)

Setiap amalan yang kita kerjakan hendaklah dimulai dengan niat, sebab jika terlupa niat diawal amalan maka yang kita kerjakan dianggap kosong (nol).
Contoh :
Mandi Junub : Jika kita lupa membaca niat dalam pelaksanaan mandi Junub, maka yang dibasuh sebelum niat tidak terhitung (tidak di-iktibarkan) dan harus diulang.

Berjalan Menuju Masjid : Jika kita berjalan menuju Masjid, maka yang dihitung ibadah adalah setelah niat kita ikrarkan, yaitu menuju Masjid untuk beramal. Maka dari itu mulailah Niat sebelum amal sebab meski belum terlaksana jika masih ada niat tetap akan dicatat dengan satu kebaikan.

Riwayat :

Ada seorang murid yang mengunjungi ulama dengan Niat jika mendapat Ilmu akan selalu mengamalkan ilmunya siang dan malam Lillahi Ta'ala. Pada suatu ketika dia mendengar suara gaib "Engkau sudah masuk kedalam hajatmu, laksanakanlah sekuasamu dengan cita-cita jalan terus dan jika nanti terhalang oleh sesuatu, maka serupalah engkau dengan beramal". Sebiji zarrah amal batin lebih berharga daripada sebesar gunung amal zhohir (jika tidak disertai dengan niat).

Dimanakah letaknya niat? Niat terjepit diantara Ilmu dan Amal, Jika Ilmu adalah mukaddimahnya, maka Niat adalah pondasinya dan Amal adalah Ma'mumnya. Setiap pekerjaan yang Wajib, sunat dan Harus hendaknya senantiasalah kita pakai niat, semoga amal kita diterima disisi Allah SWT. Wallohu A'lam (bersambung)

Selasa, Oktober 30, 2007

Tasauf-2

Lanjutan-1 Niat, Ikhlash dan Sir

Niat Iklash dan Sir (2)


Seseorang yang mempunyai Ilmu dan Harta (Kaya) dan dia bermaksiat dengan Ilmu dan hartanya dan orang yang tidak mempunyai Ilmu dan Harta (Miskin) tetapi berniat dan berangan-angan dalam hati jika mempunyai Ilmu dan Harta akan bermaksiat dengannya, maka keduanya sama-sama bermaksiat.
- Yang pertama bermaksiat dengan zhohir
- dan yang kedua bermaksiat dengan bathin.
Dari dua kejadian diatas jelaslah bahwasanya Niat seseorang itu sangat mempengaruhi amalan yang dia kerjakan.
Contoh dan Kisah :
- Dua orang Muslim yang saling berbunuhan, kata Rasulullah SAW dua-duanya masuk Neraka,
karena sama-sama punya niat untuk membunuh.
- Pekerjaan sunat (misalnya pemakaian harum-haruman) jika tidak ada niat Lillahi Ta'ala, maka
bukan amalan sunat yang kita dapati tetapi dosa yang kita terima.
- Di zaman Nabi Musa AS, ketika mereka menuju Tanah Yang di Janjikan (Baitul Maqdis), dan disaat mereka kekurangan makanan, minuman dan pakaian adalah satu orang dari kelompok yang pergi untuk mencari makanan, namun yang didapatkan bukanlah makanan tetapi disana-sini dia hanya menjumpai gundukan pasir, setengah tertegun dia berkata dalam hati "Seandainya tumpukan pasir ini adalah kebutuhan, maka akan saya sumbangan demi kemaslahatan Bani Isro'il". Disaat itu nabi Musa AS mendapat wahyu bahwa salah satu dari kaumnya sudah ada yang menyumbang sebesar gundukan pasir dan sumbangannya sudah diterima oleh Allah SWT. Serentak mereka mencari-cari siapa gerangan yang keluar mencari makanan dan menyumbang sebanyak itu dan setelah lama barulah bertemu dengan orang tadi dan mereka bertanya dia dapat dari mana harta sebanyak itu, maka orang tersebutpun berkata "Saya tidak ada menyumbang sebesar itu, hanya saja saya tadi menanamkan niat dalam hati, demikian...demikian....
Dengan demikian jelaslah bahwasanya :
- Segala sesuatu perbuatan haruslah dengan niat
- Buatlah niat dalam hati untuk kebaikan yang banyak dan meski belum sampai kepada
pelaksanaannya, maka kita sudah ditulis dengan satu kebaikan.
- Amalan yang sedikit bisa menjadi banyak jika dimulai dengan niat yang ikhlas (Lillahi Ta'ala)
dan sebaliknya akan hilang jika tidak disertai dengan niat.
Wallohu A'lam, bersambung...

Jumat, Oktober 26, 2007

Niat Ikhlash dan Sir (1)

Tulisan ini penulis buat untuk mengenang Almarhum Guru saya yang meninggal dunia bulan Maret 2007, beliau ini seorang Syaikh di Kabupaten Mandailing Natal (Madina) dan beliau bermukim di desa Manambin Kecamatan Kotanopan - Madina hingga akhir hayatnya. Semasa hidupnya almarhum selalu berda'awah dari kampung ke kampung termasuk ke kampung kami sendiri sampai beliau meninggal dunia diusia (+/-70 tahun). Dan sebagian dari pengajian yang saya ikuti ada saya tulis dalam buku harian, semoga bermanfaat bagi yang membaca dan menjadi amal jariah untuk almarhum guru saya, Amin.
..........................
Ketika Rasulullah berserta sahabat Hijrah dari Makkah ke Madinah, maka Rasulullah SAW bersabda bahwasanya Niat dari yang Hijrah itu terbagi 3 :
- Lillahi Wa Rosulih
- Liddunya
- Lil Maro'ati
Orang-orang yang berhijrah dengan Niat Lillahi Ta'ala maka ia akan mendapatkan Ridho Allah SWT, yang berniat untuk mencari dunia maka ia akan mendapatkan dunia (perniagaan yang sangat menguntungkan) dan orang-orang yang berniat untuk mencari pasangan (maro'ati) maka iapun akan mendapatkan pasangan nantinya di Madinah. Berkata Rasulullah selanjutnya "Innamal A'malu Bin niat" Adalah amal kamu itu sepenuhnya tergantung daripada Niat. Perkataan Innama pada awal hadist disebutkan dengan Bahasa / Sesuatu Yang Pasti dan Mesti. Jika kita membahas Fiqh maka semua amalam yang kita kerjakan akan tertolak jika tidak disertai dengan Niat. Semua pekerjaan yang kita laksanakan (positif) jika disertai dengan Niat maka semuanya menjadi amalan yang tercatat, misalnya belajar, bekerja, mengajar dan seterusnya.
Seseorang yang akan berangkat menuju Majlis Ta'lim di Masjid, jika semuanya disertai dengan Niat maka orang tersebut akan mendapatkan banyak amalan, diantaranya :
- Ziarah ke Rumah Allah
- Iktikaf
- Silaturrahmi
- Menambah Ilmu / Mengaji
Seorang ibu rumah tangga pada prinsipnya tugas utamanya adalah untuk memberikan nafkah batin kepada suami, tetapi belakangan ini banyak sekali kita lihat pekerjaan ibu-ibu tidak lagi kalah dengan pekerjaan suami, mulai dari mencuci, memasak, mengasuh anak dan sebagainya bahkan tidak sedikit juga yang turut membantu suaminya untuk mencari nafkah, dan sangatlah disayangkan jika hal ini tidak disertai dengan niat atau hanya sebatas keterpaksaan saja. Seandainya semua pekerjaannya disertai dengan niat untuk membantu suami dan karena Allah SWT (Lillahi Ta'Ala), maka tidak bisa dibayangkan betapa banyak amalan-amalan tambahan ibu-ibu rumah tangga tersebut. Yang banyak kita saksikan secara lahiriyah hanyalah sebatas tugas sebagai istri atau keterpaksaan (untuk membantu mencari nafkah).
Seseorang yang memulai sesuatu pekerjaan yang baik dan disertai dengan niat yang ikhlas maka orang tersebut akan mendapatkan amalan yang sunat yang banyak dan semakin mendekatkan dirinya kepada Allah SWT karena salah satu jalan untuk lebih mendekatkan diri kepada Allah SWT adalah dengan mengerjakan amalan sunat yang banyak.
Untuk itu mari kita mulai sesuatu pekerjaan yang baik dengan niat yang Ikhlas, moga-moga pekerjaan yang kita lakukan menjadi ibadah disisi Allah SWT, Amin. Wallohu A'lam
Bersambung....

Kamis, Oktober 25, 2007

Bergelut Kembali Dengan Dunia


Ramadhan 1428 telah berlalu dan bulan Syawal pun sudah dipertengahan, Jama'ah Masjid yang tadinya penuh dibulan Ramadhan kini sudah sepi, suara tadarus orang-orang dimasjid kini sudah tidak terdengar lagi. Anak-anak yang tadinya ramai diseputaran masjid untuk menunggu beduk berbunyi dan meramaikan hari raya kini sudah kembali ke bangku sekolah, kawan-kawan yang datang dari perantauan satu persatu sudah pada kembali ke tempat perantauannya masing-masing membuat yang tinggal kembali merasa sepinya perkampungan. Semua orang sudah kembali kesemua urusan duniawi, kantor-kantor sudah dibuka dan dimana-mana ramai yang melakukan Halal Bi Halal.

Tradisi Halal Bi Halal ini adanya cuma di Indonesia, Halal Bi Halal dalam arti harafiahnya adalah "Yang Halal Dengan Yang Halal" yang dalam pelaksanaannya sama dengan berma'af-ma'afan antara sesama kita, rekan sekerja, kawan sepergaulan dan sebagainya biasanya diselingi dengan pengajian dengan mengundang ustad dan makan bersama. Tradisi ini sudah hampir merata khususnya diperkantoran.

Selasa, Oktober 23, 2007

Idul Fitri


Setelah sebulan penuh berpuasa menahan diri dari haus dan lapar dan segala macam yang membatalkan puasa ataupun yang membatalkan pahala serta makruhnya, maka tibalah hari yang selalu dinanti nanti banyak orang yaitu 'Idul Fitri yang berarti hari kemenangan bagi kaum muslimin atau hari dimana kita akan kembali kepada Fitrah sebagaimana anak kecil yang baru lahir. Dimana-mana orang menyambut hari itu dengan meriah tentu saja tergantung tempat dan kondisi didaerah masing-masing. Suara petasan terdengar riuh diudara, Takbir berkumandang dari setiap penjuru negeri yang membuat pilu orang yang tidak bisa mudik atau jauh dari keluarga, Allohu Akbar, Allohu Akbar, Allohu Akbar, Allohu Akbar Walillahilhamd,...

Dibalik semua itu saya lihat seorang ibu menangis ketika menjelang malam takbiran, dia menangis sejadi-jadinya hingga nampak sembab dimata dan pipinya, saya berusaha untuk mendekat dan bertanya "Kenapa dan apa gerangan yang ditangiskannya", maka ibu itu berkata dengan terbata-bata :

Saya menangis karena ingat akan Sabda Rasulullah SAW, "Jika seandainya ummatku tahu akan apa-apa yang ada dalam Ramadhan itu niscaya ummatku akan meminta agar setiap hari adalah Ramadhan", "Dengan berakhirnya Ramadhan, maka kecelakaanlah bagi kaum muslimin".

Ibu sudah tua dan ibu mengidap penyakit maag, namun didalam bulan Ramadhan "Alhamdulillah", penyakit ibu tidaklah terasa, biasanya terlambat makan barang satu jam gelaplah pandangan ibu, tetapi dibulan Ramadhan 13 jam ibu menahan lapar dan haus tidaklah terasa. Dibulan lain ibu mendars Al-Quran paling-paling bisa khatam 1 kali dalam setahun, tetapi dibulan Ramadhan Alhamdulillah, ibu bisa khatam 2 sampai 3 kali. Dibulan lain ibu sering meledak-ledak dalam emosi jika menemui sesuatu yang ibu tidak senangi tetapi di bulan Ramadhan ibu bisa bersabar. Dibulan lain ketika beribadah ibu jarang menitikkan air mata, tetapi dibulan Ramadhan ibu bisa menitikkan air mata setiap saat, mengingat betapa Kasih Sayangnya Allah SWT kepada hambaNya termasuk kepada ibu yang sudah tua begini. Dibulan lain ketika menghadapi hidangan tidaklah ibu merasakan apa-apa selain perasaan kenyang, namun dibulan Ramadhan ibu merasakan betapa nikmatnya meminum seteguk air ketika sudah tiba waktu berbuka. Dibulan lain ibu sering mengoceh dan kadang bergunjing dengan orang lain, tetapi dibulan Ramadhan ini ibu bisa menutup mulut dan hanya berbicara yang perlu-perlu saja. Kata Rasulullah SAW Ramadhan telah tiba Syetan akan dibelenggu dan pintu sorga akan dibuka, dan besok atau mungkin ibu akan diperdaya kembali oleh Syetan, Nauzubillah Min zdalik. Menurut keyakinan yang satu mazhab dengan ibu, dibulan Ramadhan semua ahli kubur akan datang menemui saudaranya yang terdekat dan mereka akan dibebaskan dari siksa kubur, dan ibu selalu berusaha untuk mendoakan mereka meski hanya membaca surah Al-Fatihah dan ibu merasa dekat sekali dengan mereka semua, perasaan ini tidak ibu rasakan dihari-hari yang lain kecuali malam Jum'at. Dan besok setelah selesai khotbah sholat Ied, mereka akan kembali ditangkapi oleh malaikat dan mereka akan kembali disiksa didalam kubur bagi yang mendapat siksa..... semua inilah yang ibu tangiskan karena tidak ada jaminan tahun depan ibu masih bisa ikut atau tidak...
Setengah tertegun saya mendengar ibu itu menceramahi saya, dan dengan langkah pelan saya menuju rumah sembari merenung akan ceramah ibu tadi, dan saya tersentak ketika kakiku tersentuh batu-batu kecil dihalaman rumahku,...... Allohu Akbar Walillahilhamd,
Selamat Idul Fitri 1428 H Mohon Maaf Lahir dan Batin

Kamis, Oktober 04, 2007

HIDAYAH



Hidayah itu semuanya mutlak milik Allah SWT dan manusia hanya bisa berusaha sebatas kepamampuan yang dia miliki, pendidikan aqidah seperti ini yang dulu kita pelajari dengan ilmulyaqin sekarang setelah kita tua telah menjadi haqqul yaqin, ini dapat kita buktikan lewat pengalaman pribadi ataupun melihat kepada alam sekitar dan lingkungan kita. Kita semua tahu bagaimana nabi Nuh AS dengan anaknya Kan'an atau bahkan dengan Rasulullah sendiri nabi Besar Muhammad SAW dengan Pamannya Abu Tholib, meski pamannya sangat sayang kepada beliau, tetapi sayangnya hanyalah sebatas nabi kita anak dari Abangnya. Dan dia tidak sayang karena mengikuti ajaran yang dibawa oleh Rasulullah.

Jumat, September 21, 2007

99 CARA JOKES DI PESANTREN


TIAP ROKAAT PAKAI TAHIYAT

+ Pernah lihat orang lagi sholat tiap rokaat pakai tahiyat?
- Ah, kamu mengada-ada saja, orang lupa kali.
+ Bukan, orang yang Masybuk ketika sholat Maghrib
- &?/.< .......

PECALA, PECALAA, PECALLU

Bahasa Arab adalah bahasa yang paling lengkap didunia dan paling pusing untuk menghafalnya didalam kepala, bayangkan untuk "Pekerjaan Yang Sudah Dikerjakan dimasa Lalu" disebut dengan Fi'il Madhi atau Past Tense (untuk bahasa amerikun kafirunnya; barangkali) haruslah dijelaskan siapa dan orang keberapa, tempat dimana pekerjaan tersebut dilakukan. Contohnya untuk kata Nashoro (Tolong), kita harus bisa menghafal perubahan kata2nya sebagai berikut : Nashoro, Nashoroo, Nashoru, Nashorot, Nashortuna, Nashortunna dst. bayangkan betapa lengkapnya Bahasa Arab tersebut, itu baru Fiil Madhi, bagaimana dengan Fiil Mudhori (atau pekerjaan yang dilakukan diawaktu sekarang, dan yang akan datang)? Ah, dari pada susah2 bilang aja begini kata kawan saya yang iseng, dia mengambil patokan PECAL (makanan kesukaannya), PECALA PECALAA, PECALLU (mana ada sich kata PECAL dalam bahasa Arab).

JANGAN BERGERAK

Tiga orang sahabat karib akan mengadakan sholat berjama'ah dilapangan, salah satu menjadi imam dan dua orang lagi menjadi makmum dibelakangnya, ketika sholat akan dimulai, mereka bertiga sudah sepakat untuk tidak boleh ngomong dan bergerak ketika sedang sholat kecuali gerakan dan bacaan sholat saja (mungkin mereka masih pemula?). Sholatpun berlangsung dengan hidmat, tetapi apa mau dikata, ketika iktidal (bangkit dari rukuk), ada seekor kambing melintas ditengah-2 mereka sambil mengembik beeekkkk.... Sepontan saja makmum yang disebelah kiri mengucapkan.... hus, hus, kemudian yang kanan bilang : Jangan bergerak, tanpa dikomando sang Imam menoleh kebelakang seraya berkata, "Untung saya tidak bergerak"...

Rabu, September 12, 2007

HUMOR RAMADHAN


MUSYAFIR DIATAS PESAWAT

Ketika kembali dari Batam untuk berlibur Idul Fitri tahun 2005 saya bersama 3 orang kawan dapat tiket Executive, kami berangkat dari Mesh menuju Bandara sekitar jam 10, ternyata pesawat delay sampai jam 15 sore. Terpaksa kami menunggu di Bandara dalam ruangan executive, dasar lagi puasa dapat tempat yang enak pula, dimana di ruangan executive tersebut tersedia banyak minuman kaleng yang apaboleh buat tidak bisa diminum (namanya juga lagi puasa). Ketika pesawat sudah datang dan kami akan segera berangkat, kawan saya yang seorang punya muslihat, yaitu menguras isi kulkas yang berisi minuman kaleng untuk nanti diminum pada saat berbuka puasa, jitu ya? Setelah naik pesawat, karena tempat duduk di executive, banyak makanan tersedia yang disediakan oleh pramugari yang cantik. Lagi-lagi karena sedang puasa saya tidak menerima yang diberikan oleh pramugari, padahal yang disamping saya sudah dengan lahap makan, dengan muka yang sedikit kesal saya menggelengkan kepala menolak makanan yang disediakan. Akhirnya pramugari tersebut dengan malu-malu pergi kedepan dan mengumumkan kepada para penumpang yaitu minta maaf kepada yang melaksanakan puasa. Nah... rasain lho, perjalanan cuma 45 menit koq nggak puasa, musyafir apaan tuh?

JANGAN KATAKAN PUASA

Tahun 80an ketika saya masih kelas IV SD, saya mempunyai seorang teman bernama Asril, setiap hari kami puasa sebagaimana kawan-kawan yang lain. Karena kami sering makan sahur cepat (sekitar jam 2.00 dinihari), maka suatu hari saya merasakan kepayahan ketika hari sudah sore (sekitar jam 16.00), saya sudah terbaring lemas dirumah. Akhirnya ibu menyarankan untuk sholat ashar dulu siapa tahu nanti bisa fress lagi. Dengan langkah gontai saya menuju masjid yang ada dekat rumah, dan ternyata Allah menunjukkan sifat Rahman dan RahimNya, yaitu ketika saya mau mengambil wudhu saya lupa kalau saya lagi puasa, dan air segar yang mengalir dipancuran saya sedot tanpa sadar. Setelah rasa haus hilang barulah saya ingat kalau saya sedang berpuasa, kemudian saya lanjutkan untuk sholat ashar dengan badan yang sudah segar. Sesampai dirumah saya cerita kepada ibu saya dan beliau mengatakan jika puasa saya tidak batal dan itu berarti kita ditolong oleh Allah SWT. Kemudian saya bercerita kepada kawan saya Asril dan saya lihat dia cemburu dan sedikit marah kepada saya. Buktinya ketika kami jalan-jalan untuk merintang waktu, saya dilarang untuk cerita puasa dengan harapan dia juga lupa dan bisa minum, dan ternyata sampai waktu berbuka tiba kawan saya tersebut tidak pernah bisa lupa, cemburu nih ye?

PUASA JANGAN CUMA MENAHAN MAKAN DAN MINUM

Tahun 2003 saya puasa di rantau dan kami tinggal dikantor bersama satpam, saya punya seorang kawan yang sangat lucu sebut saja (Bulek), kawan saya ini sangat lucu hingga saking lucunya sampai-sampai dia sendiri tidak tahu kalau dia orangnya lucu. Suatu pagi sekitar jam 7 dan pas lagi libur, saya lihat Bulek sedang membaca koran di ruang tengah kantor, tidak berapa lama setelah itu dia berdiri dan melangkah dengan tergesa-gesa menuju kamar, saya ikuti dan ternyata dia mengambil kaca mata. kemudian Bulek kembali keruang tengah untuk melanjutkan membaca koran dengan khusuknya. Dengan mengendap-endap saya intip dari belakang dia sedang membaca apa, ternyata membaca berita dengan cerita "Pemerkosaan". Langsung saya kagetin dan saya bilang "Kalau bulan puasa mbok jangan membaca berita-berita yang begituan", tahu apa jawab kawan saya? Dengan marahnya dia berkata "Ya biarin to, itu berita kan untuk dibaca" (dengan dialek Jawa yang sangat kental), akhirnya saya ngeloyor pergi sembari tertawa.

Senin, September 10, 2007

LAILATUL QODR

ﺭﺩﻗﻠﺍﺔﻠﻴﻠ
Sewaktu masih anak-anak dahulu, tatkala masih bersekolah di Madrasyah setiap bulan Ramadhan khususnya pada malam-malam sepuluh yang terakhir dan teristimewa pada malam 27, baik oleh guru agama ataupun kata-kata orang tua kami, pada salah satu malam itu ada yang disebut sebagai malam Lailatul Qodar dan sesuai dengan perkataan dari orang-orang tua ataupun guru agama tersebut, jika kita bisa bertemu dengan yang namanya malam Lailaitul Qodar tadi, maka kita akan menjumpai kayu-kayu, gunung-gunung dan segala penghuni alam semesta ini akan sujud dan pintu langit akan terbuka dan juga pada waktu itu segala permintaan akan dikabulkan. Teman saya si Qodir bertanya kepada guru kami : “Apakah kita bisa meminta sepeda?” dengan spontan guru agama kami menjawab “Bisa”, “Hanya saja jarang sekali orang mendapatkan waktu itu karena disebabkan oleh mengantuk yang teramat sangat” kata guru kami selanjutnya.

Pada malam-malam tersebut dan khususnya pada malam 27 Ramadhan kami tetap menyalakan lilin disekeliling rumah ataupun obor dan mainan yang kesemua itu untuk menerangi perkampungan yang masih belum terjamah oleh listrik waktu itu dan tidak seperti sekarang ini. Dan orang-orang tua serta orang alim biasanya banyak merenung di mesjid, dari yang mengaji, berzikir dan semua menghadap Mighrab guna mengharapkan menemui sesuatu yang selalu dicari yakni Lailatul Qodar. Kebiasaan tersebut sampai kini masih tetap dilanjutkan oleh anak-anak kampung kami meski dalam bentuk yang agak berbeda, dan hal ini sering disaksikan oleh penulis pada saat pulang kampung pada bulan Ramadhan.

Setelah kita beranjak dewasa dan perjalanan hidup telah banyak dilewati dengan berbagai macam pergulatan dunia, berangsur angsur pula kita menyadari bahwasanya Lailatul Qodar itu tidaklah pernah kita temui dan kitapun mulai curiga akan perkataan orang-orang tua serta guru tersebut. Kita tidak pernah menemui yang namanya gunung dan kayu-kayu sujud apalagi rumah dan ironisnya melihat orang yang sujudpun kadang kita menjumpai hal yang langka kecuali dimesjid dengan ukuran yang sama sekali tidak sebanding dengan jumlah penduduk disekitar mesjid tersebut. Dalam hati kita mulai curiga kepada yang menerangkan kepada kita akan hal-hal aneh yang tidak masuk akal itu. “Apakah benar ada Lailatul Qodar itu ?”.
…………………………….

Suatu ketika Umar Bin Khattab berjalan dengan tergesa-gesa sambil menenteng pedang terhunus dan ditengah jalan ia dicegah oleh seseorang sembari bertanya :
  • Hendak kemanakah kiranya kamu Hai Umar ?
  • Umar langsung menjawab “Saya mau mencari Muhammad dan akan membunuhnya karena dia telah banyak menyesatkan banyak orang dengan dakwah-dakwahnya.
  • “Sebaiknya sebelum kamu membunuh Muhammad ya Umar alangkah baiknya jika engkau menemui saudara perempuanmu dulu, sebab Saudara perempuanmu itupun telah ikut ajaran yang dibawa oleh Muhammad itu (Islam)”.

Segera Umar membalikkan tubuhnya menuju rumah Saudara perempuannya, sesampai dirumah tersebut tanpa basa-basi Umar langsung menendang pintu dan melihat adik serta laki adiknya sedang belajar (membaca) sesuatu dan ketika melihat Umar datang adiknya langsung menyembunyikan tulisan dari kulit unta tersebut kebalik bajunya. Tanpa banyak bicara Umar langusung membanting adik iparnya dan menyusul menangkap adiknya serta berteriak “Apa yang kamu baca, dan apa yang kamu sembunyikan dibalik bajumu ?”. Adiknya menjawab “Itu adalah ayat Qur’an dan abang tidak boleh membacanya karena abang masih musyrik dan masih najis. Tanpa peduli akan ucapan adiknya, Umar langsung menemplengnya hingga bibir adiknya pecah dan segera menyentakkan buku dari tangan adiknya tersebut.

Buku itu dibuka oleh Umar dan dia menemukan Ayat yang tersurat dilembaran buku tersebut yaitu pangkal Surah Thoha ayat 1-4

1. Thaahaa.
2. Kami tidak menurunkan Al Quran ini kepadamu untuk menyusahkan dirimu;
3. Tetapi sebagai peringatan bagi orang yang takut (kepada Allah),
4. Yaitu diturunkan dari Allah yang menciptakan bumi dan langit yang tinggi.

........... badannya langsung gemetar karena serasa yang dibacanya tadi dicurahkan khusus untuknya, segera Umar tertunduk lesu dan sambil berpegangan ke dinding rumah, ia bertanya dengan suara pelan kepada adiknya “Dimana Muhammad sekarang berada?”, “kami tidak akan mengatakannya kepadamu”, “Tolonglah katakan, Saya mau masuk Islam”. Dengan perasaan riang gembira kedua adiknya langsung mengucapkan “Allohu Akbar” serta menununjukkan kepada bahwa berada dirumah sahabat Arqom bin Arqom.

Itulah sekelumit kisah perjalanan Umar Bin Khattab diawal Islamnya dan hingga sejarah mencatat hingga kini. Sampai suatu ketika Nabi kita SAW pernah berkata “Setelah saya tidak ada lagi nabi atapun rasul, dan seadainya masih ada juga, maka orang yang pantas menjadi Nabi/Rasul adalah Umarlah orangnya”. Umaiyah Bin Abu Syofyan pernah berkata “Adapun Abubakar Siddiq, dunia tidak pernah menginginkannya dan diapun tidak ingin akan dunia ini, sedangkan Umar Bin Khattab, dunia sangat menginginkannya tetapi dia tidak butuh dengan dunia ini, sementara kita sekalian telah berlumuran dengan Lumpur dunia dari kepala hingga ke perut”. Sebagaimana kita ketahui beliau adalah Seorang pemimpin umat yang bisa menggabungkan antara Ulama dan Umaro.

Bila kita menilik kepada sekitar kita ataupun jika kita membaca sejarah, banyaklah lagi yang kita temui perjalanan hidup seseorang seperti Umar Bin Khattab tadi, dimana pada mulanya orangnya jahil dan tiba-tiba oleh sesuatu hal kekuasaan Allah orang tersebut langsung berbalik menjadi orang besar dan Ulama dan bahkan Non-Muslim sendiripun sering kita jumpai berbondong-bondong masuk Islam dan menjadi Kiayi, Ulama dan sebagainya dalam waktu yang sangat singkat.

Setelah menelaah Qur’an atapun hadist maka kita dapatkanlah bahwa Malam Lailaitul Qodar itu adalah malam yang diberkati sebagaimana panjang lebar diuraikan dalam Surah Al-Qodr dimana pada malam itu malaikat turun bersama ruh dan juga malam itu lebih mulia dan lebih baik dari pada seribu bulan. Perlahan-lahan hati kitapun luluh dan menyadari bahwasanya banyak sekali orang yang menjumpai malam tersebut dan mendapatkan sesuatu yang lebih berharga dari pada dunia dan seisinya (apatah kalau cuma dibandingkan dengan sebuah sepeda seperti permintaan Qodir kawan saya tersebut) sebagaimana Umar Bin Khattab tadi, dimana hati yang tadinya sekeras batu dan sanggup membunuh anak perempuannya sendiri hidup-hidup sampai akhirnya beliau menjadi apa yang selalu kita sebut dengan Khulafa’urrosyidin, inilah satu detik yang merubah hidupnya.

Tentang keraguan kita tadi akan perkataan orang-orang tua dan guru agama bahwa jika kita mendapai Lailatul Qodar maka kita akan mendapati seisi alam sujud? … Masya Allah … yang demikian itupun sebenarnya tersurat dalam Alqur’an yaitu pada surah Al-Hajj-18

"Apakah kamu tiada memperhatikan, bahwa kepada Allah bersujud apa yang ada di langit, di bumi, matahari, bulan, bintang, gunung, pohon-pohonan, binatang-binatang yang melata dan sebagian besar daripada manusia? dan banyak di antara manusia yang telah ditetapkan azab atasnya. dan Barangsiapa yang dihinakan Allah Maka tidak seorangpun yang memuliakannya. Sesungguhnya Allah berbuat apa yang Dia kehendaki"

dan keterangan-keterangan seperti ini kita temui juga dalam surah lain (mis. Surah Arrohman dan lainnya). Dan kenapa sampai sekarang kita tidak pernah melihatnya, hal ini tidak lain disebabkan karena memandang seluruh ciptaan Allah ini selalu kita pakai dengan dua mata telanjang yang sangat terbatas jangkauannya padahal untuk membaca ciptaanNya kita tidak selalu bisa menggunakan mata tersebut. Jika kita belajar Tauhid, maka disana jelaslah bahwasanya kita diwajibkan untuk beriman kepada : Allah, Malaikatnya, Kitab2nya, Rasul2nya, Hari Kiamat dan Qodho/Qodar, semua ini adalah Ghoib dari penglihatan mata kita, kecuali Al-Qur'an yang sampai saat ini masih bisa kita baca, tetapi tetap saja kita beriman. Hal ini tidak lain dan tidak bukan karena Ilmu yang kita pelajari dan Hidayah yang diberikan Allah SWT kepada kita sekalian. Kita beriman kepada Allah pencipta Alam Semesta atas sifat wajib dan mustahil serta yang harus bagiNya, kita beriman dengan malaikat, beriman dengan kitab yang telah diturunkan kepada nabi2 dari Nabi adam hingga nabi kita Muhammad SAW, kita beriman kepada Nabi/Rasul2 yang diutusNya, hingga nabi kita Muhammad SAW yang jaraknya dengan kita sekarang ini sudah 1420 tahun lebih, kadang seolah2 jarak antara kita dengan beliau masih dekat jika kita sering2 bersholawat kepada beliau dan mempelajari ajaran2 Agama yang dibawanya, begitu juga dengan hari kiamat, kita percaya bahkan kadang sering membayangkan bahwa kita sudah berpulang, kemudian kita dimandikan, dikafani, di sholatkan diantara ke pintu kubur hingga kita sendirian didalam kegelapan, mendapat siksa jika kita orang yang berdosa, tidur menunggu hari berbangkit jika kita termasuk orang yang beruntung, kemudian kita dibangkitkan menuju padang mahsyar untuk kemudian disidang di Mahkamah Qodhi Robbul Jalil, dan kita menyaksikan diri kita berjalan diatas Shirot, terjatuh menuju Neraka atau terus berjalan menuju Syurga, begitu juga dengan Qodho dan Qodar, semua itu adalah Ghoib dari penglihatan kita, tetapi tetap saja kita beriman. Hal ini tidak lain dan tidak bukan karena Allah SWT memberikan kita Ilmu untuk itu, dan jika tidak mustahil kita bisa beriman dengan yang Ghoib.

Selanjutnya Saudara bertanya, berarti Lailatul Qodar tidak hanya bisa dijumpai pada malam-malam bulan Ramadhan ? jawabannya “Tepat” Hal ini akan kita dapati juga pada waktu-waktu lain ….Insya Allah…. jika kita benar-benar masuk kedalam Islam sebagaimana disebut Allah dalam surah Al-Baqoroh ayat … "Masuklah kamu kedalam Islam dengan sebenarnya dan jangan sekali-kali mengikuti langkah-langkah Syetan karena ia musuhmu yang sangat nyata". Kenapa Rasullullah menyuruh kita mencari pada malam-malam bulan Ramadhan ? jawabnya karena siangnya kita telah berpuasa, malamnya kita melaksanakan Qiyamul Lail (Tadarus, Tarawih, Witir dll) apatah lagi sepuluh malam-malam yang terakhir yang Rasullullah sendiri pernah mengatakan bahwa sepuluh malam terakhir adalah malam pembebasan dari Neraka dan beribadah seperti ini tidaklah kita temui dibulan-bulan yang lain selain Ramadhan. Jika kita sudah terbebas dari Neraka bagaimana mungkin kita tidak bisa menyaksikan semua kekuasaan Allah ini ? Yang pasti, dulu kita sangat percaya akan Lailatul Qodar ini, kemudian kita ragu, dan selanjutnya kita yakin seyakin-yakinnya bahwa benarlah apa yang diceritakan oleh guru tersebut, hanya saja pengalaman rohani kita kadang sulit untuk kita ceritakan kepada orang lain. Imam Al-Ghozali pernah berkata “Seandainya saya ceritakan kepada kalian apa-apa yang saya rasakan pasti kalian akan menuduh saya orang gila”

Ramadhan 1428 sudah diambang pintu, moga-moga Allah SWT memberikan kita semua umur yang panjang dan kita masih bisa ikut dalam kompetisi kali ini, Amin. Mari sama-sama kita pergunakan waktu yang sedikit ini khususnya bulan Ramadhan kali ini dengan ibadah puasa pada siangnya, iktikaf di masjid, sholat wajib, tarawih serta witir dan tadarus al-Quran, menjelang sahur sholat tahajjudlah, selepas sahur dirikanlah sholat sunnah Fadjar, berzikir barang sejenak dengan Subhanallohi Wabihamdih, Subhanallohil Adzim, perbanyaklah Istigfar, dan perbaiki iman dengan Kalimat Lailaha Illalloh, kemudian tutup dengan do’a "Allohumma Inna nas aluka ridhoka waljannah, wanauzubika min sakhotika wannar", mogo-moga Allah SWT membuka hijab dan kitapun akan menemui Lailatul Qodar tersebut, tidak dapat seluruhnya, sebagian kecil sajapun cukuplah...… Insya Allah satu detik yang akan merubah kita seribu bulan. Singkirkan dari pikiran kita untuk sementara mengejar dunia dan janganlah rakus dengan dunia, karena sebanyak apapun dunia yang kita kumpulkan tidak lebih dari sekedar pengisi perut, tidak lebih dari sekadar pakaian penutup aurat dan kelak kita akan dikembalikan kepada Allah SWT pun hanya berlapis tiga kain kafan. Dunia ini perlu, dan sangat perlu memang betul sebagaimana kebanyakan dari kita merasakan sendiri betapa susahnya untuk mengurusi masalah duniawi ini, namun meski demikian, sebagai hamba Allah yang paling sempurna janganlah kita korbankan akhirat, "Janganlah dunia ini (harta dan keluarga) menghalangi kamu dari mengingat Allah, dan barangsiapa yang memperbuat demikian maka termasuklah dia orang yang merugi" (QS: Al-Munafiqun Ayat 9)

MARHABAN YA RAMADHAN 1248 H, MOHON KEMAAFAN LAHIR DAN BATIN



Catatan :

Penulis mengambil patokan dari Renungan Tasauf Alm. Prof. Dr. Hamka yang mana beliau ini adalah guru saya secara tidak langsung, karena saya banyak mengambil ilmu dari buku-bukunya, kemudian ditambah dengan apa yang saya dapat di Pengajian Rutin yang saya ikuti dikampung ataupun ditempat lain dan perjalanan kehidupan Penulis sendiri, moga2 bermanfaat, Amin.