ﻪﺘ ﺎﮐﺮﺒﻮ ﷲ ﺔﻤﺤﺮﻮ ﻢﻜﻴﻟﻋ ﻢﻼﺴﻟﺍ

Selamat Datang di http://nasutions.blogspot.com/
Blog ini hanyalah bersifat pribadi dan dibuat juga sekedar iseng sambil belajar, jadi sangatlah wajar jika isinya hanya sebatas ilmu penulis yang sangat sedikit. Semua ini hanya mengisi waktu luang disamping kesibukan bekerja dan dorongan kewajiban untuk berda'wah meski hanya satu ayat, mudah-mudahan bermanfaat bagi pembaca dan penulisnya, Amin ya Arhamarrohimin.
"Saran serta kritik membangun sangat kami harapkan dari pengunjung".
Hak Cipta Sepenuhnya milik Allah SWT, Wassalam.

Tampilkan postingan dengan label - Renungan Jum'ah. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label - Renungan Jum'ah. Tampilkan semua postingan

Kamis, April 10, 2008

Kemunduran Secara Perlahan


Dahulu, 1400 tahun yang lalu ketika Islam pertama kali diperkenalkan oleh Nabi kita Muhammad SAW, agama Islam ini tidaklah ada yang mau, tidak ada yang suka kecuali hanya segelintir penduduk kota Makkah. Dan kelak Islam ini juga akan pergi meninggalkan kita, tatkala agama Islam ini sendiri sudah ditinggal oleh pemeluknya.


Apakah orang-orang Islam akan pergi ke Agama lain? Mungkin ya, dan mungkin juga tidak. Belakangan ini sudah sering kita saksikan betapa orang-orang Islam ini sudah banyak yang murtad (pindah Agama) Nauzubillah Min Dzalik. Namun itu semua sebenarnya hanyalah sebagian kecil daripada jumlah pemeluk Islam. Dan yang sangat kita kuatirkan adalah manakala pemeluk Islam ini sendiri tidak mencintai agamanya lagi meski dianya tidak murtad.




Beberapa contoh kecil yang penulis temui mungkin berguna bagi kita semua untuk menjadi Ibrah (bahan pelajaran), diantaranya :
  • Saya punya rekan kerja dan suatu hari saya mendengar dia menanyakan sesuatu kepada rekan kerja yang lain (wanita), katanya "Hai.... saya dengar kamu punya kawan yang bernama Ali ya?, punya kawan koq namanya Ali, cari kawan yang namanya keren dikitlah, misalnya Jhony, Michael, Bernand (kawan saya tersebut menyebut nama-nama orang barat). Dari perihal tersebut diatas, dapatlah kita simpulkan bahwa kawan saya tersebut (mungkin juga diantara kita) sudah banyak sekali yang malu memakai nama-nama Islam. Mungkin kawan saya tersebut tidak mengenal siapakah Ali itu. Apa peran Ali Bin Abi Tholib itu dalam Islam, dan sebagainya. Namun yang jelas belakangan sudah banyak kita lihat kalau orang-orang Islam sendiri sudah tidak cinta lagi dengan nama-nama Islam, sehingga dari segi nama, kita sudah susah membedakan mana orang Islam dan mana yang Non Islam. Meski sebenarnya nama itu bukanlah ukuran, tetapi kita sudah bisa lihat jika Islam sendiri sudah mulai malu dengan nama-nama Islam.
  • Seorang kawan saya yang lain, ketika orang-orang barat dengan gencar-gencarnya menghujat Islam dari segala segi termasuk dalam membuat film yang isinya mendiskreditkan Islam. Kawan saya tersebut berusaha untuk mencari film itu lewat Internet dan sepertinya kawan saya itu bangga bercerita kepada saya akan film yang dia tonton. Ketika di TV ada sebuah acara dari agama lain dan saya sampaikan kepada kawan saya itu supaya jangan ditonton, tetap saja kawan tadi ngotot untuk menontonnya dengan alasan biar tidak membuat penasaran, Ironis memang. Namun itulah Agama Islam di akhir Zaman, agama yang hanya tinggal kulitnya saja.
  • Ketika teman dekat istri saya (disuatu tempat) mengadakan pesta, pada malam harinya saya berusaha untuk datang sekedar membantu mempersiapkan tenda, kursi dan sebagainya. Namun apa yang saya temukan? Dihalaman rumah sudah disediakan minuman keras untuk orang-orang yang jaga dan bekerja dirumah itu. Saya tanyakan kepada tetangga akan hal ini dan ternyata tetangga saya juga menjawab jika itu adalah minuman yang resmi jika ada pesta, Masya Allah.
  • Menghadiri pesta adalah sesuatu yang biasa dan diwajibkan bagi kita jika memang mendapat undangan. Yang menjadi tidak biasa dan sampai sekarang mengganjal fikiran saya adalah ketika suatu saat saya dan kawan akrab akan menuju ke pesta pernikahan seorang teman. Sebagaimana umumnya kita lihat belakangan ini, jika mau ke pesta orang selalu berpakaian batik. Saya mengajak kawan saya untuk berbaju koko dan pakai peci putih, tahu apa jawaban kawan saya tersebut? "Wah itu tidak pada tempatnya", dan kami sempat berdebat kecil sebelum berangkat dan akhirnya saya saja yang pakai peci dan teman saya ini berpakaian sebagaimana orang ke pesta pada umumnya sekarang ini.

Di Zaman Rasulullah SAW pengikut Islam disiksa jika ketahuan oleh Quraisy Makkah dan bahkan di Indonesia ini sendiri ketika bangsa kita di jajah oleh bangsa Barat tidaklah bebas dalam melaksanakan ibadah. Sekarang ini, Alhamdulillah kita bebas melakukan aktifitas Ibadah apa saja yang kita inginkan asal masih dijalan yang benar, dan anehnya justru ketika bebas ini kita malah tidak mencintai agama kita sendiri, Nauzubillah, tsumma Nauzubillah.

Sebenarnya masih banyak lagi kejadian-kejadian yang semisal dengan itu yang penulis temui, namun rasanya terlalu panjang untuk diungkapkan semuanya disini,
Tulisan tersebut diatas bukanlah tulisan yang berputus asa, namun moga-moga apa yang saya temui ini tidak terjadi pada kita dan kita sama-sama tanamkan niat dari sekarang untuk selalu mencintai agama Islam ini.


Jumat, Maret 28, 2008

Doa Yang di Ijabah (Haulah Binti Tsa'labah)

Suatu ketika Khalifah Umar Bin Khattab sedang berjalan-jalan dengan rombongan di Madinah, diiringi dibelakang oleh banyak pengiringnya, lalu tiba-tiba muncullah seorang perempuan tua dan mencegah romboga untuk berhenti sebentar. Khalifah menghentikan rombongannya dan kemudian beliau duduk bersila mendengarkan perempuan tua ini memberikan beberapa pesan-pesan dan pelajaran. Perempuan tua itu kemudian berkata : "Hai Umar, dimasa kecil dahulu orang memanggilmu si Umar Cilik, Setelah dewasa orang-orang memanggilmu Hai Umar, sekarang orang memanggilmu Amirul Mu'minin, untuk itu hai Umar! Bertaqwalah kepada Allah, sebab barang siapa yang yaqin pasti mati, niscaya takutlah dia akan ancaman Tuhannya kelak di Akhirat".
Setelah selesai perkataannya barulah dibolehkannya Umar Bin Khattab pergi untuk melanjutkan perjalanannya, maka bertanyalah beberapa pengiringnya itu : "Ya Amiril Mu'minin, siapakah gerangan perempuan tua itu sehingga amiril mu'minin mau berhenti begitu lama dan mendengarkan perkataannya?". Lalu Umar menjawab "Demi Allah", seandainyapun aku ditahan dari pagi hingga petang hari, aku tidak akan beranjak sedikitpun kecuali untuk melaksanakan sholat lima waktu, "Tidak tahu kah kalian bahwa wanita itu adalah seorang perempuan yang didengar dan diijabah oleh Allah langsung do'anya, dari atas yang teratas dari langit yang ketujuh, apakah Allah SWT mendengar do'anya sedang Umar tidak?". Perempuan itu adalah "Khaulah binti Tsa'labah" yang diceritakan oleh Allah SWT dalam surah "Al-Mujadalah".
Panjang memang umur Khaulah binti Tsa'labah ini, dia masih hidup kala Abubakar menjadi Khalifah dan beliau juga masih mendapati pemerintahan Umar Bin Khattab. Berkata Imam Ahmad Bin Hambal dalam kedudukan beliau sebagai perawi hadist......berkata Khaulah bahwa suatu hari suamiku (Aus bin Shamit) pulang kerumah dan saya menanyakan sesuatu kepadanya, tetapi beliau marah-marah sehingga keluar ucapannya "Punggungmu sama seperti punggung ibuku".
Kata-kata seperti ini adalah kebiasaan buruk zaman jahiliyah, jika ingin menceraikan istrinya. Kata haulah selanjutnya "Setelah kejadian itu suamiku pergi keluar rumah dan setelah itu dia kembali lagi kerumah kemudian mendekatiku untuk menyentuhku, lalu dia aku tolak dan kataku "Jangan dekat kepadaku! Demi Allah yang Khaulah ada dalam genggaman tanganNya, Engkau tidak boleh mendekatiku sampai datang hukum Allah dan Rasulnya pada kita" dan Akhirnya Khaulah pergi menghadap Rasulullah SAW. Dan duduklah aku dihadapan Rasulullah serta menceritakan segala yang kuhadapi, dan Rasululah bersabda "Anak pamanmu sudah tua, taqwalah kepada Allah dan rukunlah dengan dia". Namun Khaulah belum puas, karena masih ragu akan kedudukannya sebagai istri Aus bin Shamit Lalu Khaulah berkata "Aku belum akan pulang kerumah ya Rasulullah sebelum ada ketentuan Al-Qur'an tentang diriku".
Dalam riwayat lain : selanjutnya Khaulah menadahkan tangannya dan dia berseru kepada Allah SWT : "Tuhanku! Kepada Engkaulah aku keluhkan akan kepapaanku dan kesepianku sendirian, berat rasanya bagiku ya Tuhan untuk berpisah dengan suamiku ayah dari anak-anakku dan orang yang aku kasihi. Engkau tahu bahwa dari dia aku mendapatkan anak-anak yang masih kecil, turunkanlah kiranya ke lidah nabiMu ini suatu sabda yang melepaskan daku dari kesulitan ini.
Lalu turunlah Ayat Al-Qur'an Surah Al-Mujadalah ayat 1-4.
Kesimpulan kepada sekalian kaum muslimin dan muslimat, jangan sekali-kali berputus asa akan rahmat Allah SWT, dan jangan tanggung-tanggung jika meminta kepada Allah SWT, tetapi mintalah "Robbana atina fid dunya hasanah, wa fil akhiroti hasanah, waqina azabannar" Ya Tuhan kami berilah kepada kami kiranya kebahagian diatas dunia dan kebahagiaan di Akhirat kelak dan jauhkanlah kami dari siksa Neraka. Do'a ini disebut sebagai do'a Sapu jagad, segeralah kita sekalian bertaubat dan kembali kepada jalan Allah SWT.
Wallohu 'a'lam..

Kamis, Maret 13, 2008

Rindu Kepada Kubur


Suatu kali, ketika guru saya menerangkan akan hal Siksa dan Ni'mat kubur dengan panjang lebar, sekonyong-konyong beliau berkata, "Bagaimana?" Apakah kalian belum rindu juga akan kubur?. Saya tersentak kaget dan berfikir dalam-dalam akan apa yang barusan diucapkan oleh beliau.

Semua orang yang penulis temui dan setiap orang yang saya tanya, belumlah ada yang mengatakan rindu dengan kubur, dan kalaupun ada hanyalah orang yang bosan hidup dengan berfikir bahwa jika dia mati semua persoalan hidup akan selesai.

Sampai dengan detik ini, perkataan guru saya masih sering terngiang ditelinga, apakah bisa kita rindu akan kubur?. Bukankah kematian itu adalah hal yang paling ditakuti oleh siapapun makhluk hidup didunia? Bukankah di dalam kubur kita sendirian dengan jangka waktu yang tidak ada ketentuannya?

Setelah semua yang mendengarkan terdiam, barulah guru saya melanjutkan. Bahwasanya jika seseorang sudah benar-benar beriman dan beramal sholeh, tentu saja dia akan merindukan Tuhannya, Tuhan yang dia sembah setiap waktu. Tuhan tempatnya untuk berkeluh kesah mengadukan semua persoalannya baik yg enak ataupun tidak enak. Sebab kepada siapalagi kerinduan yang paling tinggi kalau bukan kepada Allah? Yang menciptakan kita, yang memberikan kita rezki, yang sangat menyanyangi kita bahkan lebih sayang daripada seorang ibu kepada anaknya?.

Maka jalan satu-satunya jika kita ingin berjumpa dengan Allah, Tuhan Semesta Alam adalah ketika kita sudah meninggalkan dunia ini alias sudah dimasukkan kedalam kubur. Bagaimana? Masih belum rindu juga? kembali guru saya berkata kepada semua hadirin. Saya masih juga terdiam seribu basa, hingga akhirnya guru saya kembali melanjutkan. "Jika masih juga kalian takut akan kubur yang sudah pasti akan kalian temui, maka dahulukanlah hartamu kesana, yakni dengan jalan menginfaqkannya". "Suruh hartamu menunggu dan menyambutmu kelak, jangan tinggalkan hartamu didunia ini yang akan diperebutkan oleh banyak orang (anak dan saudara) yang belum tentu akan memberikan manfaat kepadamu".

Mungkin anda akan bertanya bukankah memberikan atau meninggalkan harta untuk anak dan keluarga kita juga ibadah? Betul. Tetapi lebih jauh dari itu kamupun jangan melupakan dirimu, dalam arti jangan jadi orang yang bakhil, jangan harta yang bertumpuk dimakan sendiri. Tetapi sebagiannya berikanlah dijalan Allah, lewat shodaqoh, infaq dan yang semacamnya. Sebab hartamu itu nanti akan menyambutmu dipintu kubur, tempat dimana kamu sangat takut akan dia.

Sebuah hadist dari Rasullah SAW, yang artinya kira-kita demikian. "Kelak akan datang dibelakang hari orang-orang yang memikul hartanya kian-kemari untuk menginfaqkannya, tetapi tidak ada satu orangpun yang menerima dan orang-orang yang dia temui malah berkata : "Seandainya kemarin kamu datang kepada kami, pasti kami akan menerima, tetapi sekarang dirumah kami juga sudah banyak".


Wallohu A'lam.

Kamis, Januari 03, 2008

Hijrah Bukan Sekadar Pindah


"Orang-orang yang beriman dan berhijrah serta berjihad di jalan Allah dengan harta benda dan diri mereka, adalah lebih Tinggi derajatnya di sisi Allah; dan Itulah orang-orang yang mendapat kemenangan" (At-Taubah ayat 20)

Tidak terasa masa terus berputar dan hari terus berganti dan sekarang kita sudah berada diujung Tahun 1428 Hijrah dan kira-kira seminggu lagi kita akan memasuki Tahun Baru Islam 1429 Hijrah. Mengulang sedikit kebelakang, adalah permulaan Tahun baru Hijrah dipakai dalam Islam yaitu disaat Khulafa'ur Rosyidin Umar Bin Khattab, suatu ketika beliau mengirim surat kepada raja Persia dan suratnya dibalas oleh Raja Persia kira-kira seperti ini :

"Surat Khalifah yang tidak ada tanggalnya sudah kami terima dan kami baca......dst", dan para sahabatpun berkumpul untuk menentukan kalender Islam dan ada yang mengusulkan dari lahirnya Rasulullah, dari diangkatnya menjadi Rasul dan sebagainya, akhirnya seorang sahabat mengusulkan permulaan Tahun Islam adalah ketika Rasulullah dan sahabat berpindah dari Makkah ke Madinah, yaitu tanggal 1 Muharram, dan semua setuju.

Sejak saat itu, Islam mempunyai kalender sendiri yang sampai dengan sekarang ini kita semua sudah tahu yaitu Tahun Baru Hijrah.

Hijrah, kalau kita artikan secara harafiah adalah berpindah dari satu tempat ketempat lain dengan maksud untuk memperbaiki kehidupan dan agama. Adalah Rasulullah SAW ketika itu di Makkah sudah sangat tertekan oleh kaum Qurais bahkan mereka (kaum Quaris yang membenci Rasulullah) sudah berniat untuk membunuh beliau. Rasulullah sudah ingin sekali berhijrah dari Makkah, namun wahyu dari Allah belum juga turun untuk memerintahkan beliau berhijrah. Hingga suatu malam pengikut Abu Jahl dan Abu Lahb telah matang mengatur strategi untuk membunuh beliau dan rasullah tahu akan hal itu, maka malam itu yang tidur di rumah yang sudah dikepung oleh pengikut kafir Qurais, tetapi Allah SWT lebih punya tipu daya daripada mereka. Mereka semua tertidur, dan Rasulullah keluar meninggalkan rumah untuk selanjutnya yang tidur dirumah beliau adalah Saydina Ali bin Abi Tholib. Beliau menuju rumah Abu Bakar dan mereka berdua menuju tempat persembunyian yaitu digua Tsur dan selama digua ini, kafir Qurais tetap mencari hingga kepintu gua. Setelah beberapa hari bersembunyi barulah mereka berangkat menuju Madinah (Yatsrib ketika itu).

Menunjuk kepada firman Allah SWT diatas, adakah kewajiban bagi kita ummat belakangan ini untuk berhijrah ?, maka jawabannya adalah :
  • Wajib, selama hijrahnya kita adalah untuk kebaikan agama. Misalnya kita hidup dalam suatu kaum yang tidak seaqidah dengan kita dan kita sering tertekan, maka adalah merupakan kewajiban bagi kita semua untuk berhijrah.

  • Wajib juga hukumnya untuk memperbaiki diri kita, apatahlagi agama kita. Misalnya sholat kita yang masih belang-belang, kita usahakan untuk tidak lagi meninggalkan sholat. Puasa yang masih sering bolong, kita berhijrah untuk tidak ada lagi yang tertinggal dan sebagainya selama untuk kebaikan agama, meski pada lahirnya kita tidak pindah tempat.

Rasulullah SAW bersabda : "Barang siapa yang tahun ini lebih baik daripada tahun kemarin, maka ia adalah orang yang beruntung, jika tahun kemarin sama saja dengan tahun ini maka ia adalah orang yang tertipu dan apabila tahun kemarin lebih baik daripada tahun ini, maka ia adalah orang yang terkutuk".

Moga-moga Allah SWT memberikan kita semua kebaikan di Tahun ini jauh melebihi kebaikan yang kita dapatkan ditahun-tahun sebelumnya, Amin.

"SELAMAT TAHUN BARU, 1 MUHARRAM 1429 HIJRAH"

Wallohu 'A'lam, -nst-

Minggu, Desember 16, 2007

Cobaan Hidup

Kaum muslimin yang berbahagia,

Didalam kehidupan ini kita semua selalu diuji oleh Allah SWT, baik untuk urusan amwal (harta) ataupun anfus (diri), selama hayat masih dikandung badan tidak akan henti-hentinya cobaan itu datang silih berganti, selesai urusan yang satu datang urusan yang lain, demikian seterusnya. Guru saya pernah berkata : "Orang yang belum punya anak SUSAH berusaha dan berobat kesana sini, sudah punya anak SUSAH lagi untuk mencari belanjanya, sudah besar SUSAH lagi untuk memikirkan pendidikannya sudah dewasa SUSAH lagi mengurus perangainya, SUSAH, SUSAH dan SUSAH itulah sifat manusia". Perasaan seperti itu akan sambung menyambung terus selama kita masih hidup dan itu sudah sifat dari manusia, namun meski demikian Allah SWT selalu menyuruh kita untuk selalu Sholat dan Sabar karena cobaan demi cobaan yang dihadapi jika kita Ridho Insya Allah akan menjadi amal kebajikan juga untuk kita semua.

Sabtu, Desember 08, 2007

Renungan Jum'ah (1) Perjalanan Sang Badan

Saudara-saudara kaum muslimin yang berbahagia!

Firman Allah Dalam Surah Al-Jum'ah ayat 8
Katakanlah: "Sesungguhnya kematian yang kamu lari daripadanya, Maka Sesungguhnya kematian itu akan menemui kamu, kemudian kamu akan dikembalikan kepada (Allah), yang mengetahui yang ghaib dan yang nyata, lalu Dia beritakan kepadamu apa yang telah kamu kerjakan".

Pertama dan utama sekali marilah kita sama-sama mengucapkan puji dan syukur kepada Allah SWT yang telah memberikan rakhmat dan karunianya kepada kita semua untuk dapat berkumpul ditempat yang berbahagia ini dengan satu niat dan tujuan kita bersama dalam melaksanakan ubudiah kepadaNya yakni Sholat Jum’at. Seiring dengan itu sholawat dan salam tidak lupa pula kita sanjungkan kepada Arwah junjungan kita Nabi Muhammad SAW yang sangat kita harapkan safaat beliau nanti di hari akhir, hari dimana Allah menyebutkan dalam Al Qur’an Yauma La Yanfa’u Maluw wala banun…, dengan selalu bersholatwat kepada beliau, Insya Allah kita akan diberikan pertolongan oleh Allah SWT. Amin Ya Robbal Alamin.

Saudara-saudara sekalian….

Alam ini telah diatur oleh Allah SWT dengan perputaran dan pergatian masa yang terus berlanjut hingga nanti sampai kepada hari Kiamat, dimana ada yang datang dan ada pula yang pergi. Dahulu kita tidak ada, kemudian kita ada, dan entah besok atau lusa kitapun akan kembali menghadap Allah SWT dan tempat serta kedudukan kita di dunia yang sekarangpun akan digantikan oleh orang lain, bisa anak, cucu ataupun siapa saja, termasuk didalam Masjid ini sendiripun, dahulu Imam, Khotib atau Muazzinnya adalah orang lain yang sekarang telah kembali ke khadirat Allah SWT dan kini kita gantikan oleh kita-kita dan seterusnya akan silih berganti antara datang dan pergi.

Kembali kita tilik firman Allah SWT tadi,

“Sesungguhnya kematian yang kamu lari daripadanya, maka kematian itu akan menemui kamu”. Adakah diantara kita ini yang berlari dari maut? Jawabannya tentu tidak jika kita saksikan secara langsung, akan tetapi jika kita perhatikan sekeliling kita banyak sekali orang yang tidak menginginkan kematian itu datang. Contohnya seorang kaya, baru terkena demam sedikit sudah langsung berobat ke dokter dengan takutnya, rambut kepala yang sudah memutih dicatnya menjadi hitam, kulit yang keriput dioperasi biar kencang kembali, gigi yang permisi satu persatu diganti dengan gigi baru dan lain-lain sebagainya. Semua itu tidaklah akan menjadi halangan bagi El-Maut untuk merenggut nyawa kita jika sudah cukup waktunya, biarpun kita lari kemana tempat diatas bumi Allah ini, atapun akan bersembunyi didalam peti besi. Yang pasti maut itu akan tetap menjemput entah nanti, besok, lusa atau kapan saja. Tidaklah harta kita yang bertumpuk itu akan dapat menolong kita dari mati, tidak juga mobil BMW kita yang mengkilat itu akan menghalangi, tidak juga anak dan istri kita. Jika ajal sudah sampai mau tidak mau, suka atau tidak suka, kita harus berangkat meninggalkan alam ke 2 kita ini yakni alam dunia. Tinggallah anak, tinggallah istri dan tinggallah semuanya.

Saudara-saudara kaum muslimin yang berbahagia!!!
Harta yang setengah mati kita mencari dan mengumpulkannya akan kita tinggalkan, istri dan anak yang kita cintai sepenuh hati akan kita tinggalkan, kemana kita akan pergi? “Dan kamu akan dikembalikan kepada yang mengetahui yang ghaib dan nyata” yakninya Allah SWT. Dari Dia lah kita ada, dengan Dia pula kita hidup didunia ini dan besok jika kembali, maka kepadaNya pulalah kita akan menghadap.
Setelah kita dimandikan, kemudian disholatkan untuk selanjutnya dipikul orang banyak diatas keranda, maka berangkatlah sang badan yang sudah tidak berdaya itu, harta benda, istri yang sangat engkau cintai, dan anak-anak serta keluarga dan sahabatmu melepas dengan tangisan yang memilukan dan dirimu akan diasingkan ketempat pemberhentian yang ketiga yaitu alam barzakh, alam dimana kamu akan berada untuk jangka waktu yang tidak diketahui.

Selepas itu, orang akan mengurug tanah menimbun dirimu, dan menginjak-injak tanah diatasmu, Selesai ? Belum ... Tujuh langkah orang yang terakhir meninggalkan kuburmu, maka datanglah dua malaikat yang menghebohkan didalam kehebohan gelap dan pekatnya kuburmu, menanyaimu dalam 6 (enam) persoalan 1. Siapa Tuhanmu? 2. Siapa nabimu? 3. Apa Agamamu? 4. Dimana Kiblatmu? 5. Siapa Imammu? 6. Sipa Saudaramu? , "lalu Dia beritakan kepadamu apa yang telah kamu kerjakan". Jika kamu beruntung, Insya Allah kamu akan selamat dan tidur menunggu dibangkitkan, akan tetapi jika nasibmu malang, maka kamu akan disiksa sepanjang masa menunggu saat Malaikat Isrofil meniup sangkakala pada tiupan yang pertama dan kamu akan ”Terombang-ambing dilautan menunggu belas kasihan dari keluarga yang engkau tinggalkan” sebagaimana sabda Rasulullah SAW, itupun jika mereka masih mau mengingat dan mendo’akan engkau dan apabila tidak, maka selesailah bagianmu.

Saudara-saudara kaum muslimin yang berbahagia!!!
Moga-moga dengan zikrul maut yang sedikit diatas, kembali menyadarkan kita semua untuk selalu menempuh jalan yang diridhoi oleh Allah SWT, Biarlah jadi gelandangan diatas dunia ini, asal tidak menggelandang di hadapan Allah nanti. Waktu masih ada, kesempatanpun masih diberikan, mari sama-sama bertaqwa kepada Allah SWT dan meninggalkan semua larangannya dengan sekuasa kita, dan jika Allah SWT memanggil kita besok hari, semoga kita semua akan menjadi orang yang Husnul Khotimah dan bukan sebaliknya, Amin Ya Arhamarrohimin. Hanya Allah yang benar, Wallohu A’lam.